Tuesday, November 11, 2008

Sejarah Musik

BAB II




Musik Barat di Surabaya







Musik barat telah muncul dan berkembang di Indonesia sejak lama, semenjak kedatangan orang–orang Portugis, Belanda, dan Inggris. Persentuhan orang–orang pribumi dengan budaya barat ini terjadi pertama–tama melalui ekspansi politik, ekonomi, budaya dan agama.29

Sejak awal masuk ke Indonesia, perkembangannya lebih banyak terjadi di wilayah perkotaan, terutama kota–kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Yogyakarta. Penyebabnya dikarenakan pada awalnya musik barat lebih diperuntukkan bagi masyarakat Eropa, baik sebagai hiburan atau digunakan pada acara–acara militer maupun keagamaan. Status masyarakat Eropa yang merupakan golongan atas dalam stratifikasi yang mereka ciptakan membuat pada umumnya masyarakat Eropa bertempat tinggal di daerah perkotaan, sehingga musik–musik barat yang berfungsi sebagai sarana hiburan bagi mereka, pada umumnya diperdengarkan di daerah perkotaan.30

Semenjak terjadinya gejala–gejala industrialisasi di segala bidang telah membuat perkembangan dan perubahan orientasi musik barat. Musik yang pada awalnya merupakan suatu pertunjukkan seni yang agung, terbatas penikmatnya dan mungkin hanya bisa sekali saja diperdengarkan pada event–event tertentu, telah berubah menjadi suatu bentuk seni hiburan yang dimassalkan.31 Dengan perkembangan industri, musik pun kemudian menjadi lahan bisnis baru bagi para kapitalis di Eropa dan Amerika, dimana Indonesia merupakan salah satu pasar yang potensial bagi pengembangannya.

Penemuan radio dan gramaphone di awal abad ke-20 adalah suatu bentuk pengawetan dan penyiaran berganda (einmaligkeit) fenomena bunyi.32 Keberadaan dan peranan dari radio dan gramophone, merupakan salah satu aspek terpenting dari penyebaran musik barat di Indonesia.

Kota Surabaya sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, dengan keberadaan penduduk yang plural dan juga sebagai kota industri membuatnya sangat mudah dan terbuka dalam membuka pintu bagi masuknya kebudayaan barat. Perkembangan industri musik barat seakan menjadi fenomena tersendiri yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat Surabaya.



A. Awal Perkembangan

1. Musik Barat pada Masa Kolonial tahun 1900-1942

Surabaya pada masa kolonial dikenal sebagai kota industri, kota yang heterogen pusat dari kegiatan industri, maritim, buruh, kesibukan dan kerja. Identiknya Surabaya dengan industri dan maritim memang memberikan gambaran betapa sibuknya kota ini. Sebagaiman diungkapkan oleh Mc Allister sebagai berikut :

The song of surabaya is the song of labour. No more hardworking place can be found east of Suez. All day the streets are busy, and the roar of traffic is never stilled. Nor does the night bring quietness, for, spent with exertions of a hot day, the inhabitants seek to recuperate their tired energies in pursuit of pleasure.33


Nyanyian dari Surabaya adalah nyanyian para buruh. Tidak ada tempat yang penuh dengan kerja keras lain yang bisa ditemukan di sebelah timur Terusan Suez selain Surabaya. Sepanjang hari jalanan selalu sibuk, derungan lalu lintas tak pernah berhenti bergerak. Ataupun datangnya malam tidak memberikan kesunyian, dimana setelah menghabisakan waktu di cuaca yang panas, Para manusia/masyarakatnya mencari suatu cara untuk melampiaskan kelelahan mereka dengan mencari kesenangan.


Berdasarkan gambaran dari McAllister tersebut, bisa dilihat bagaimana sibuknya Surabaya pada masa kolonial, dalam kesibukan masyarakatnya pada siang hari, malam hari digunakan bagi masyarakat Surabaya untuk melepas lelah dan juga mencari kesenangan. Salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Surabaya ialah dengan mendengarkan atau menikmati musik, baik melalui radio maupun gramophone di rumah mereka masing-masing atau mendengarkan langsung pertunjukaan musik yang dimainkan di club–club, cafe, maupun hotel-hotel.34

Musik–musik yang dimainkan pada tempat–tempat tersebut adalah musik–musik barat yang memang akrab di telinga masyarakat Eropa, seperti musik–musik klasik sebagai teman berdansa ataupun musik jazz yang pada masa itu mulai digemari masyarakat Eropa.35 Sebagian besar penikmat dari musik–musik barat adalah orang–orang Eropa yang bertempat tinggal di Surabaya, karena disamping keinginan untuk bisa menikmati suasana yang sama dengan negara asalnya, masyarakat Eropa memiliki akses yang lebih mudah untuk dapat menikmati alunan musik–musik barat dibandingkan dengan golongan masyarakat lain di Surabaya.

Keberadaan industri musik barat di Surabaya, sudah terlihat bahkan sejak awal tahun 1900-an, ini terlihat dari keberadaan perusahaan–perusahaan pembuat dan penjual alat–alat musik milik Belanda yang sudah berdiri di Surabaya. Beberapa perusahaan penjual alat musik yang cukup terkenal pada masa kolonial adalah : Lyra, yang berdiri pada tahun 1908 merupakan toko penjual alat–alat seperti gramophone dan piringan hitam. Pemilik dari Lyra adalah J.H.Goldberg yang juga merupakan pemilik dari sebuah perusahaan Optik di jalan Pasar Besar.36

Perusahaan lain yang cukup terkenal adalah W.Naessens and co., merupakan perusahaan yang menjual dan memproduksi piano. Selain memproduksi piano buatan sendiri, mereka juga menjual piano–piano merek lain dari Eropa dan berbagai macam alat musik lain, seperti alat musik petik, drum, gramophon, Piringan Hitam. W.Naessens ini merupakan perusahaan yang lebih besar dibandingkan dengan Lyra dan sering mengikuti pameran–pameran Industri yang diadakan di Surabaya pada masa–masa itu37. Selain kedua perusahaan tadi ada satu lagi perusahaan di bidang alat musik yang cukup terkenal di Surabaya adalah perusahaan milik K.K.Knies, yang berdiri pada tahun 1909. Apabila dibandingkan dengan W.Naessens, K.K Knies (terletak di jalan Tunjungan) memang masih kalah besar, baik dari ukuran gedung ataupun jumlah pegawai yang dimiliki, namun koleksi dari alat–alat musik yang dijual cukup lengkap dan banyak.38

Selain dilihat dari keberadaan perusahaan–perusahaan alat musik yang ada, perkembangan dan keberadaan musik barat di Surabaya bisa diamati melalui jenis–jenis musik barat dan tempat–tempat memainkannya. Pada awal masa kolonial, pertunjukan–pertunjukan musik barat sangat eksklusif sifatnya bahkan dalam masyarakat Eropa sendiri. Pertunjukan musik hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu seperti golongan pejabat tinggi kolonial dan militer.39 Sehingga bagi golongan masyarakat Eropa diluar golongan pemerintah dan militer hanya mendengarkan musik melalui radio dan gramophone saja.

Baru setelah makin banyaknya dibangun gedung–gedung pertunjukan musik (musik societeit) sebagai perwujudan dari komunitas musik di Surabaya, keberadaan musik barat sudah bisa dinikmati golongan masyarakat Eropa diluar pihak Pemerintah dan juga pihak Militer. Pertunjukan–pertunjukan musik pun semakin pesat, disamping di gedung–gedung pertunjukan (Societeit) musik barat juga dimainkan di restoran–restoran dan tempat hiburan lain bagi masyarakat Eropa di Surabaya. Seperti fungsinya jenis–jenis musik barat yang dimainkan di tempat–tempat tadi adalah jenis Musik hiburan yang digemari masyarakat Eropa, seperti musik–musik klasik terutama yang berirama dansa (Waltz),40 musik jazz ataupun blues. Sementara di bagian Militer musik–musik mars tetap menjadi musik yang wajib diperdengarkan dilingkungannya. Jenis musik barat lain yang juga muncul pada masa kolonial adalah musik rohani untuk penyebaran agama Kristen yang umumnya dimainkan di Gereja–gereja.

Pentingnya societeit sebagai salah satu lahan dan sarana penyebaran musik barat pada masa kolonial sangatlah terasa di Surabaya, ini bisa dilihat dari cukup banyaknya societeit yang ada. Beberapa societeit yang cukup populer seperti Simpang Soceiteit yang terletak di Jalan Simpang, sekarang gedung ini menjadi gedung Balai Pemuda, berikutnya De Club yang terletak di pojok Embong malang, kemudian ada juga Societeit Concordia yang saat itu terletak di Societeitstraat (sekarang dikenal dengan jalan veteran).41

Disamping societeit–societeit tadi terdapat juga societeit yang diprakarsai militer, seperti Militair Cantine di Krembangan dan Marine Societeit yang terletak di Oedjong.42 Peranan militer dalam perkembangan musik barat di Surabaya tidak hanya terlihat dari Societeit–societeit yang mereka dirikan ataupun lagu–lagu mars mereka, sebagai pangkalan marinir terbesar di Indonesia, keberadaan marinir di Surabaya memang cukup banyak dalam membawa musik–musik barat diluar musik mars mereka.43 Dimana ini bisa dilihat dari adanya korps–korps musik militer yang disamping memainkan lagu–lagu mars, juga memainkan lagu–lagu barat lain seperti jazz dan musik klasik.

Meskipun musik barat identik dengan bangsa Eropa, namun bukan berarti masyarakat pribumi sama sekali tidak mengenal ataupun tidak bisa menikmati musik barat. Masih ada beberapa golongan masyarakat pribumi yang bisa menikmati dan mempelajari musik barat walaupun terbatas jumlahnya. Golongan–golongan masyarakat pribumi yang bisa menikmati dan mempelajari musik barat berasal dari golongan Priyayi, dan juga anak–anak dari pegawai negeri pemerintahan kolonial.44 Mereka memperoleh pendidikan tentang musik barat dari sekolah–sekolah umum yang ada, hanya masyarakat pribumi dari golongan tadi yang diijinkan bersekolah oleh pemerintah kolonial.

Para golongan intelektual muda itulah yang kemudian memberikan perubahan dalam penyebaran musik barat, walaupun penyampaiannya dalam bentuk yang berbeda. Musik barat yang diperkenalkan oleh para golongan muda, bukan bentuk musik hiburan yang umum berkembang dalam masyarakat Eropa, tetapi dalam bentuk lagu–lagu perjuangan yang dipelopori oleh lagu Indonesia Raya. Lagu Indonesia Raya diciptakan oleh W.R. Supratman seorang musisi kelahiran Surabaya yang sempat juga bermain musik di Surabaya bersama pemusik–pemusik asing dalam grup musiknya (grup musik Black and White). Lagu Indonesia Raya, diperkenalkan pada saat Sumpah Pemuda oleh W.R. Supratman, menggunakan sistem musik barat yang diatonis menjadi awal dari lahirnya musik nasional Indonesia.45 Bahkan sebenarnya lagu Indonesia Raya merupakan adaptasi dari sebuah lagu jazz.

Penggunaan sistem musik barat ini dilakukan agar tercipta sebuah musik pemersatu yang tidak bersifat etnis dan sifatnya universal, sehingga bisa mewakili seluruh suku bangsa dan daerah di Indonesia.46 Pada tahun–tahun berikutnya setelah Sumpah Pemuda, perkembangan musik barat di Surabaya tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Musik barat masih menjadi konsumsi ekslusif masyarakat Eropa, perubahan hanya terjadi pada perkembangan jenis musik barat yang masuk di Surabaya. Dimana pada sekitar tahun 1930-an musik barat yang ada di Surabaya mulai didominasi musik–musik hiburan dari Amerika, sementara musik–musik klasik Eropa mulai sedikit tersisih.

Perkembangan musik barat bergaya Amerika bisa dilihat dari semakin populernya musik jazz dan blues, terutama semenjak kemunculan jenis musik swing jazz.47 Musik ini sepertinya sangat sesuai dengan jiwa dan semangat pembebasan yang sedang muncul dalam golongan intelektual muda Indonesia.48 Periode tahun 1930-an inilah sebuah era dimana musik barat mulai bisa disosialisasikan ke kalangan masyarakat pribumi secara lebih luas di Surabaya.

Sosialisasi musik barat di Surabaya pada tahun 1930-an terlihat dari semakin banyaknya musisi pribumi yang turut bermain bersama musisi–musisi asing di tempat–tempat hiburan yang ada di Surabaya. Disamping itu musisi–musisi pribumi baik yang berasal dari Surabaya ataupun di luar Surabaya juga turut bermain musik di dalam kelompok–kelompok sandiwara keliling seperti kelompok Bintang Soerabaja yang sedang populer pada tahun 1930-an.49

Hingga akhir masa kolonialisme Belanda dan beralih ke masa pendudukan Jepang di Indonesia, keberadaan musik barat di Surabaya tidak mengalami perubahan yang berarti, kecuali pada masa pendudukan Jepang dimana musik–musik yang diperkenalkan oleh Jepang adalah musik–musik propaganda yang bertujuan untuk mendekatkan masyarakat terhadap bangsa Jepang. Sehingga pada masa kependudukan Jepang, jenis musik barat yang berkembang adalah lagu–lagu nasional Indonesia yakni lagu–lagu perjuangan dalam menghadapi penguasaaan Jepang.




2. Musik Barat setelah Kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1959

Perkembangan musik barat di Surabaya setelah revolusi kemerdekaan sama pesatnya dengan kota–kota besar lain di Indonesia, karena seperti yang diketahui keberadaan dan kedekatan Surabaya dengan budaya barat tersebut sangatlah kuat. Pada periode ini, keterlibatan masyarakat pribumi dengan musik barat semakin besar baik sebagai penikmat maupun sebagai musisi.

Musisi berkualitas mulai bermunculan di kota–kota besar di Indonesia termasuk di Surabaya sendiri. Surabaya yang pada masa kolonial termasuk kota yang amat identik dengan musik barat, tetap menunjukkan trend yang sama. Beberapa musisi–musisi lokal muncul dan turut menyebarkan musik barat di Surabaya dan bahkan kemudian terkenal secara nasional dan internasional.

Adalah Jack Lesmana salah satu musisi legendaris Indonesia yang mengawali karirnya di Surabaya. Dia merupakan ayah dari Indra Lesmana, Jack Lesmana sudah bermain di Surabaya sejak tahun 1946 bersama grup musiknya Jack Lesmana Quintet dan bermain secara khusus di RRI.50 Pada tahun 1951 dia bergabung dengan salah satu musisi yang cukup ternama Maryono, dalam grup musik Angkatan Laut RI di Surabaya.51 Maryono juga salah satu musisi yang cukup terkenal yang mengawali karirnya secara profesional di Surabaya dan aktif bermain di Surabaya sampai pertengahan tahun 1980-an. Salah satu musisi asal Surabaya yang juga sangat terkenal yang sudah muncul pada tahun–tahun itu adalah Bubbi Chen, seorang musisi jazz yang sangat terkenal bahkan di dunia musik Internasional, namun pada masa awal kemerdekaan Indonesia Bubbi masih sibuk dengan pendidikan musiknya. Selain itu ada juga Bill Saragih, yang bergabung dengan grup musik Bhinneka Ria.52 Disamping itu masih banyak musisi–musisi lokal yang bergabung dalam grup–grup musik yang sering bermain dalam tempat–tempat hiburan di Surabaya.

Pada tahun–tahun awal kemerdekaan Indonesia itulah, awal dari pergerakan musik secara nasional, dimana banyak musisi dari daerah ataupun dari kota pindah dari satu kota ke kota lain untuk mencari kesempatan bermain musik. Surabaya termasuk salah satu tempat tujuan awal dari musisi–musisi tersebut untuk mencari uang dari musik dan mencari kesempatan bermain, namun tujuan akhir dari musisi–musisi itu adalah Jakarta.

Tidak bisa dipungkiri semenjak kemerdekaan Indonesia peran Jakarta dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia sangat besar, termasuk di bidang musik. Jakarta memang memberikan kesempatan bermain yang lebih banyak dan lebih besar bagi para pemusik, suasana kehidupan musik inilah yang merangsang para musisi lokal termasuk dari Surabaya untuk mencoba peruntungan di Jakarta.53 Hijrahnya musisi–musisi Surabaya dan kota–kota lain ke Jakarta, semakin kuat setelah muncul dan berkembangnya industri rekaman nasional. Industri rekaman nasional di prakarsai oleh perusahaan rekaman Irama milik Yos Karsono di Jakarta yang berdiri pada tahun 1954 dan juga perusahaan rekaman pemerintah Lokananta di Solo.54 Perusahaan Irama juga merupakan perusahaan rekaman swasta pertama dan yang mempelopori lahir dan berkembangnnya perusahaan–perusahaan rekaman swasta lainnya di Indonesia. Meskipun seringnya musisi Surabaya pergi ke Jakarta, kehidupan musik di Surabaya tetaplah ramai, musisi–musisi lokal tetap ada dan terus bermunculan.

Peranan Radio dalam penyebaran musik pada awal masa kemerdekaan Indonesia sangatlah besar, saat itulah masa awal dari peranan radio dalam menyebarkan musik barat di Surabaya dan kota–kota lain di Indonesia. Siaran musik RRI dilakukan dengan menghadirkan pemusik lokal Surabaya, mengundang pemusik dari luar kota disamping tentunya memutar lagu–lagu barat baik dari musisi asing ataupun dari musisi Indonesia.

Disamping melalui RRI masyarakat Surabaya juga bisa mendengarkan musik melalui siaran radio luar yang juga bisa dipancarluaskan di Indonesia, seperti radio BBC London-Inggris, Radio ABC-Melbourne-Australia, Radio Hilversum-Belanda atau Radio VOA Washington-Amerika.55 Siaran radio asing dan piringan hitam merupakan salah satu sumber utama masuk dan populernya lagu–lagu dari musisi barat, hal ini dikarenakan RRI yang sedikit lebih mengutamakan lagu–lagu nasional atau lagu–lagu musisi Indonesia.56

Peran RRI dalam penyebaran dan perkembangan musik barat pada tahun–tahun awal kemerdekaan Indonesia, juga diwujudkan dengan acara Kontes Bintang Radio, sebuah lomba menyanyi yang diprakarsai oleh RRI. Acara Bintang Radio dimulai pada awal tahun 1950-an, kontes ini diadakan pada tingkat kota, propinsi dan nasional.57 Dimana juara dari Surabaya kemudian dipertemukan dengan juara dari kota–kota lain di Jawa Timur untuk kemudian pemenangnya ditunjuk untuk bersaing pada ajang tingkat nasional. Kejuaraan itu dibagi kedalam tiga kategori musik yakni kategori musik seriosa (musik serius atau jenis musik klasik), musik keroncong, dan musik hiburan (musik–musik dari jenis musik barat populer).58

Melalui kontes Bintang Radio itu lahir penyanyi–penyanyi yang kemudian populer di kalangan masyarakat. Penyanyi–penyanyi seperti Norma Sanger, Titik Puspa, Bing Slamet inilah contoh–contoh penyanyi hasil dari kontes tersebut, yang kemudian dikenal masyarakat Surabaya melalui lagu–lagunya yang sering diputar di radio, piringan hitam dan juga penampilan mereka di tempat–tempat hiburan di Surabaya. Tahun 1950-an Indonesia sedang dilanda demam musik hiburan, terutama lagu–lagu dari musisi barat yang populer pada tahun–tahun itu. Lagu–lagu berirama manis dari Frank Sinatra, Nat King Cole, Bing Crosby, Doris Day dan lain–lain, menjadi lagu–lagu yang digemari kaum muda tak terkecuali anak–anak muda Surabaya.59

Pada tahun 1955 muncul trend musik baru di barat yang dengan cepat berkembang di Indonesia yakni musik rock ‘n’ roll. Masuknya musik rock ‘n’ roll ini di Indonesia juga mendapat perhatian yang besar di Surabaya, musik rock ‘n’ roll ini dipopulerkan oleh musisi–musisi seperti Bill Halley and The Comets, Elvis Presley, The Beatles dan The Rolling Stones.

Masuknya musik rock ’n’ roll ini di Kota–kota besar di Indonesia tidak diawali oleh album–album musik terlebih dahulu, tetapi justru melalui media film layar lebar. Film layar lebar/bioskop (atau pada masa itu sering disebut juga gambar hidup) merupakan media lain dari penyebaran musik barat di Indonesia, terutama pada tahun 1950-an.60 Populernya jenis film musikal, dimana keberadaan dari soundtrack musik sangat penting dalam film itu, telah membuat film sangat identik dengan musik. Film berjudul Rock Around The Clock yang menampilkan Bill Halley seorang pelopor musik rock ’n’ roll inilah yang memprakarsai kepopuleran dari musik tersebut di Indonesia.61 Dari situlah kemudian generasi musik rock ’n’ roll, mulai berkembang di Surabaya, dengan kemunculan Bill Halley kemudian disusul masuknya Elvis Presley, dan yang paling fenomenal adalah The Beatles.

Kepopuleran musik ini kemudian menimbulkan permasalahan di Indonesia. Keberadaan dari musik rock ’n‘ roll dianggap sebagai perwujudan dari budaya imperialisme barat, dan tidak sesuai dengan cita–cita revolusi bangsa Indonesia. Pendapat itu dimantapkan melalui pidato yang diucapkan oleh Presiden Sukarno, pada upacara kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1959 yang menyerukan larangan bagi pengedaran dari musik–musik barat bahkan juga budaya–budaya barat lain.




3. Masa Pelarangan terhadap Musik Barat tahun 1959-1970.

Pidato presiden Sukarno pada 17 Agustus 1959, yang menunjukkan pernyataan sikapnya menentang keberadaan dari musik barat dan budaya barat adalah sebagai berikut :




“DAN engkau, hei pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi; engkau yang tentunya anti-imperialisme ekonomi, engkau yang menentang imperialisme politik; kenapa di kalangan engkau banyak yang tidak menentang imprialisme kebudayaan? Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock-‘n-roll-rock-‘n-rollan, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainya lagi? Kenapa di kalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luar, yang nyata itu adalah imperialisme kebudayaan?”62




Pidato tersebut seakan menjadi pernyataan awal dari pemerintah untuk membatasi dan melarang sama sekali keberadaan musik barat terutama musik rock ’n’ roll yang dianggap sebagai sebuah imperialisme kebudayaan.63 Mulai tahun 1959 pemerintah mulai melakukan berbagai macam gerakan–gerakan untuk menghentikan peredaran dari musik barat dalam masyarakat umum di Indonesia, terutama di kota–kota besar. Pelarangan pemerintah mulai dari himbauan- himbauan bagi para penyanyi–penyanyi untuk berhenti memainkan lagu–lagu musisi barat, memainkan musik yang bergaya barat, melakukan razia terhadap piringan hitam–piringan hitam yang di jual di kota–kota besar, bahkan sampai melakukan razia terhadap gaya rambut, dan juga pakaian dari masyarakat terutama anak–anak mudanya.

Keseriusan pemerintah dalam melarang perkembangan dari musik barat semakin terlihat saat dikeluarkannya Penetapan Presiden No 11/1963 tentang larangan terhadap musik barat.64 Apalagi pada pertengahan tahun 1960-an itu kepopuleran musik barat terutama musik–musik The Beatles sedang gencar-gencarnya di Indonesia. Musisi Indonesia yang populer seperti Koes Bersaudara, Dara Puspita, Lilies Suryani sering memainkan lagu–lagu dari The Beatles, Everly Brothers dan juga meniru aksi–aksi panggung mereka dengan menggoyangkan pinggul dan menggerakkan lutut, tidak hanya itu Koes Bersaudara juga sampai meniru gaya berpakaian dan model rambut dari The Beatles.65 Trend mode ini pada sekitar tahun 1960-an menjadi populer dikalangan anak–anak muda di kota–kota besar termasuk di Surabaya.

Kepopuleran dari The Beatles juga bisa dilihat ataupun didengar melalui tangga lagu di radio–radio asing yang bisa dipancarluaskan di Indonesia. Pada pertengahan tahun 1960-an The Beatles merajai tangga lagu musik di dunia, seperti bisa dilihat di tabel;

Tabel 1

Tangga Lagu Musik Barat Tahun 1964




Tanggal
Minggu
Judul Lagu
Penyanyi

1/04
4
1. There I’ve Said it Again
Bobby Vinton

2/01
7
2. I Want to Hold Your Hand
The Beatles

3/21
2
3. She Loves You
The Beatles

4/04
5
4. Cant Buy Me Love
The Beatles

5/09
1
5. Hello Dolly
Louis Armstrong

5/16
2
6. My Guy
Mary Wells

5/30
1
7. Love Me Do
The Beatles

6/06
3
8. Chapel of Love
The Dixie Cups

6/27
1
9. A World Without Love
Peter & Gordon

7/04
2
10. I Get Around
The Beach Boys

7/18
2
11. Rag Doll
The Four Seasons

8/01
2
12. A Hards Day’s Night
The Beatles

8/15
1
13. Everybody loves Somebody
Dean Martin

8/22
2
14. Where Did Our Love Go
The Supremes

9/05
3
15. The House of The Rising Sun
The Animals

9/26
3
16. Oh, Pretty Woman
Roy Orbison

10/17
2
17. Do Wah Diddy Diddy
Manfred Mann

10/31
4
18. Baby Love
The Supremes

11/28
1
19. Leader of The Pack
The Shangri-Las

12/05
1
20. Ringgo
Lorne Greene

12/12
1
21. Mr Lonely
Bobby Vinton

12/19
2
22. Come See About Me
The Supremes

12/26
3
23. I Fell Fine
The Beatles


Sumber : Arsip Pustaka Musik RRI, Tentang Tabel Tangga Lagu Musik Dunia tahun 1964 versi Billboard Musik, hlm. 656.


Keterangan Tabel :

Tanggal : Tanggal dan bulan dari posisi lagu menjadi peringkat pertama

Minggu: Minggu lagu tersebut menduduki peringkat pertama

Judul Lagu: Judul Lagu

Artis: Nama Grup Band atau Penyanyi

Contoh membaca tabel: Pada tanggal 4 januari 1964, Bobby Vinton dengan lagunya There I’ve Said It Again berhasil meduduki peringkat puncak tangga lagu dunia versi tabel ini.



















Tabel 2

Tangga Lagu Musik Barat Tahun 1965




Tanggal
Minggu
Judul Lagu
Penyanyi

1/21
2
1. Downtown
Petula Clark

2/06
2
2. You’ve Lost That Lovin Feelin
The Righteous Brothers

2/20
2
3. This Diamond Ring
Gary Lewis & The Playboys

3/06
1
4. My Girl
The Temptations

3/13
2
5. Eight Days A Week
The Beatles

3/27
2
6. Stop In The Name Of Love
The Supremes

4/10
2
7. Im Tellin You Now
Freddie & The Dreams

4/24
1
8. Game Of Love
Wayne Fontana & The Mindbenders

5/01
3
9. Mrs. Brown You’ve Got A Lovely Daughter
Herman’s Hermits

5/22
1
10. Ticket to Ride
The Beatles

5/29
2
11. Help Me Rhonda
The Beach Boys

6/12
1
12. Back In My Arms Again
The Supremes

6/19
2
13. I Cant Myself
Four Tops

6/26
1
14. Mr. Tambourine Man
The Byrds

7/10
4
15. (I cant Get No) Satisfaction
The Rolling Stones

8/07
1
16. I’m Henry VIII, I Am
Herman’s Hermits

8/14
3
17. I Got You Babe
Sonny & Cher

9/04
3
18. Help!
The Beatles

9/25
1
19. Eye Of Destruction
Barry Mcguire

10/02
1
20. Hang On Sloopy
The McCoys

10/06
4
21. Yesterday
The Beatles

11/06
2
22. Get Off My Cloud
The Rolling Stones

11/20
2
23. I Hear A Symphony
The Supremes

12/04
3
24. Turn!Turn!Turn!
The Byrds

12/25
1
25. Over and Over
The Dave Clark Five


Sumber : Arsip Pustaka Musik RRI Tentang Tabel Tangga Lagu Musik Dunia tahun 1964 versi Billboard Musik, hlm. 657.




Dari deskripsi diatas terlihat kepopuleran dari The Beatles pada tahun–tahun itu memang sangat besar, dimana lagu–lagu mereka berhasil menduduki posisi puncak tangga lagu dunia berkali–kali dalam kurun waktu satu tahun. Pada tahun 1964 tercatat 6 kali lagu–lagu The Beatles menduduki posisi puncak tangga lagu dunia, ini sebuah prestasi yang tidak bisa disamai artis–artis lain pada tahun itu.

Pada Tahun 1965 popularitas The Beatles, tetap tidak surut terbukti lagu mereka bisa menduduki posisi puncak tangga lagu sebanyak 4 kali, walaupun pesaing mereka sudah mulai banyak, seperti The Rolling Stones yang kepopulerannya sudah mulai terlihat. Tabel tangga lagu itu memang hanya memuat lagu–lagu yang paling digemari atau menduduki posisi puncak dari tangga lagu yang dibuat, jadi tidak memuat daftar peringkat tangga lagu keseluruhan, kalau sekarang biasanya urutan tangga lagu populer berkisaran dari peringkar 1-10 (Top Ten).

Melihat bukti bahwa lagi-lagu barat terutama dari The Beatles masih begitu kuat popularitasnya di masyarakat dan dari musisi–musisi di Indonesia, pemerintah kemudian bertindak semakin keras dalam menyikapi hal itu. Pemerintah melalui hasil sidang presidium kabinet pada 22 September 1964, membentuk panitia untuk mengatasi persoalan musik barat.66 Tim panitia tersebut terdiri dari Oei Tjoe Tat, Adam Malik, dan Mayor Jenderal Ahmadi, hasil keputusan mereka dilaporkan langsung ke Presiden Soekarno. Hasil ketetapan yang dihasilkan berisikan larangan dan tindakan tegas bagi warga negara yang masih mendengarkan dan memainkan musik barat.67 Pelaksanaan penindakan terhadap hasil ketetapan diserahkan langsung kepada kepolisian, dimana tindakan tegas pun dilakukan dalam prosesnya.

Mulai saat itu gerakan pelarangan dan penindakan oleh pemerintah semakin giat dan tanpa kompromi, para musisi yang masih memainkan musik-musik barat dan bergaya ala musisi barat diberi peringatan keras, razia terhadap piringan–piringan hitam dari musisi–musisi barat seperti The Beatles, The Rolling Stones dll, semakin sering dilakukan. Pihak kepolisian bahkan memberikan peringatan kepada para penjual piringan hitam agar segera menyerahkan persediaan piringan hitam yang mereka miliki hingga batas waktu 22 Juli 1965.68 Tidak hanya bagi musisi dan penjual album musik barat, penindakan dan peringatan juga diberikan bagi tempat–tempat hiburan atau pertunjukan yang mengijinkan musisinya memainkan musik barat. Pihak kejaksaan tinggi pusat juga mewajibkan agar semua grup musik, pelaku bisnis hiburan, dan tempat–tempat hiburan untuk mendaftarkan diri mereka agar mudah diawasi oleh pihak kepolisian.69

Sementara itu dalam masyarakat juga dilakukan operasi terhadap warga negara yang dianggap meniru trend atau fashion dari musisi–musisi barat. Pemerintah melakukan operasi terhadap rambut gondrong dan model pakaian yang digunakan masyarakat terutama anak–anak muda di kota–kota besar.

Sosialisasi dari razia terhadap mode dan gaya hidup itu di Surabaya, terlihat juga dari peringatan dan pengumuman yang diberikan lewat RRI Surabaya dan juga melalui sekolah–sekolah yang ada. Dimana melalui pihak Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sekolah–sekolah diharapkan agar mengawasi dan memperingatkan para muridnya untuk mematuhi aturan-aturan ataupun larangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.70 Disamping razia melalui sekolah–sekolah, polisi juga melakukan razia terhadap anak-anak muda di tempat–tempat hiburan seperti bioskop dan tempat–tempat pertunjukan lainnya, bahkan pihak kepolisian juga meminta kepada tukang–tukang cukur dan pemilik salon agar tidak melayani apabila ada permintaan potong rambut seperti The Beatles.71 Hal–hal tersebut menunjukkan begitu besarnya kekhawatiran pemerintah akan pesatnya dan juga populernya musik barat dikalangan masyarakat kota.

Gerakan–gerakan pelarangan yang dilakukan pemerintah membuat perkembangan dari industri musik barat di Indonesia seakan berhenti ditengah jalan. Para penyanyi dan musisi di Indonesia yang mulai menunjukkan keberadaan mereka, dengan memainkan lagu-lagu barat dari musisi barat yang sedang populer terpaksa harus beralih ke lagu–lagu nasional atau lagu perjuangan dan lagu–lagu daerah yang irama sedikit diubah bergaya musik barat, seperti irama musik rock ataupun cha-cha-cha.72 Hal inilah yang kemudian terjadi dalam pertunjukan–pertunjukan musik di kota–kota besar, termasuk di Surabaya sendiri.

Pelarangan terhadap musik barat memang tidak serta merta mematikan geliat para musisi dan juga pertunjukan–pertunjukan musik di Indonesia. Pertunjukan musik di Surabaya masih tetap ada dan tidak benar–benar mati, ini dibuktikan dari adanya pertunjukan–pertunjukan musik yang berlangsung pada tahun–tahun itu. Dilihat dari data–data mengenai pertunjukkan musik yang terdapat dalam harian Surabaya Post pada tahun 1960-an, ditemukan bahwa di Surabaya pertunjukan musik masih cukup sering dilakukan. Seperti acara musik yang dilakukan oleh RRI yang menampilkan grup musik Tunas Mekar yang memainkan lagu–lagu nasional seperti lagu rayuan pulau kelapa73; kemudian ada pertunjukkan musik amal yang menghadirkan grup musik Varia Nada, dan beberapa penyanyi dari Jakarta seperti Elly Kasim, Henny Purwonegoro dll. Pertunjukkan musik amal tersebut digelar di THR (Taman Hiburan Rakyat).74

Penikmat musik barat di Surabaya, Jakarta, Bandung dan kota–kota besar lain memang sangat kesulitan untuk menikmati musik-musik barat, terutama lagu–lagu barat. Hanya golongan tertentu saja yang masih bisa memperoleh koleksi piringan hitam itupun biasanya merupakan koleksi pribadi.

Konfrontasi pemerintah dengan musik barat, tidak hanya melibatkan pelarangan di bidang musik saja tetapi juga berkembang ke media seni lain yang dianggap budaya luar, seperti pada seni sastra, seni lukis dan seni budaya lain yang berasal dari barat. Hal tersebut yang juga kemudian menimbulkan konflik antara dua kubu yakni organisasi seni yang mendukung pemerintah yakni LEKRA dan juga munculnya Manifesto Kebudayaan yang tidak setuju dengan pelarangan–pelarangan dari pemerintah.

Manikebu juga mendapatkan pro dan kontra di Surabaya, beberapa pihak terutama dari golongan kesenian tradisional yang merasa terbantu dengan pencekalan musik barat dan mendukung gerakan pencekalan, namun seniman–seniman yang merasa tidak ada yang salah dengan kebudayaan barat menyayangkan pencekalan tersebut dan mendukung Manikebu. Akan tetapi pada tahun 1964 pemerintah pada akhirnya bisa memaksakan peraturan tersebut sehingga diterima dan dipatuhi para seniman di Surabaya.75

Penurunan dari kualitas musik ataupun musisi yang muncul di tahun 1960-an, berpengaruh terhadap distribusi maupun produksi dari perusahaan rekaman. Pasaran yang tidak ramai pada saat itu, bertambah sulit dengan pelarangan musik impor. Perusahaan Irama harus menghentikan produksinya karena adanya proteksi larangan impor piringan hitam dari luar negeri.76 Hal ini berpengaruh terhadap distribusi piringan hitam mereka ke Surabaya. Belum lagi masalah pembajakan yang terjadi di Surabaya, seperti yang dialami oleh perusahaan Remaco pada tahun 1964 dimana sekitar 500 judul Piringan Hitam produksi Remaco (album artis–artis lokal Indonesia) secara illegal dipindah kedalam bentuk kaset dalam jumlah ribuan setiap judul dan diedarkan ke Indonesia Timur.77

Kondisi yang sulit bagi musisi–musisi Surabaya itu, dimanfaatkan para musisi yang sudah berkualitas untuk melanjutkan pendidikannya ke luar negeri ataupun mencoba peruntungan mereka dengan mengadakan pertunjukan ke luar negeri. Seperti yang dilakukan beberapa musisi dari Surabaya atau yang mengawali karir mereka di Surabaya seperti Bubbi Chen yang pada sekitar tahun 1965 bersama rekan–rekannya diajak oleh Bung Karno berkeliling Eropa Barat dan Timur serta ke Aljazair untuk menunjukkan kepiawaiannya bermain musik, tetapi bukan jenis musik barat yang dimainkannya.78

Puncak dari pelarangan terhadap musik barat terjadi ketika grup musik Koes Bersaudara ditahan pada tahun 1965, tepatnya pada 29 Juni 1965 mereka ditahan karena tidak memperdulikan larangan dari pemerintah dan tetap memainkan musik barat dalam pertunjukan atau konsernya.79 Penahanan dari Koes Bersaudara seakan menjadi bukti kuat tentang keseriusan pemerintah menjalankan peraturannya dalam melarang perkembangan dan keberadaan musik barat di Indonesia. Penahanan ini kemudian menimbulkan reaksi dari organisasi– organisasi kebudayaan yang ada, termasuk di Surabaya. Organisasi–organisasi kebudayaan tersebut mendatangi kantor kejaksaan tinggi dan mempertanyakan tentang aturan dan batasan–batasan yang lebih jelas dari pelarangan terhadap musik barat. Tetapi aksi protes yang dilakukan organisasi-organisasi kebudayaan tersebut tidak bisa menggugah dan mengubah keputusan pemerintah, bahkan pihak kejaksaan tinggi, yang diwakili oleh Jaksa Aorean dan jaksa agung Brigjen Sutardhio menyatakan dengan tegas bahwa musik yang diperbolehkan dimainkan di Indonesia adalah musik yang sesuai dengan semangat revolusi. 80










B. Jenis dan Media Penyebar Musik Barat di Surabaya

1. Jenis Musik dan Musisi Barat yang populer

Situasi politis yang belum stabil pada akhir tahun 1960-an, membuat perkembangan musik barat saat itu belum begitu baik, baru pada tahun 1970 perkembangan dari musik barat di Surabaya khususnya dan di Indonesia pada umumnya menampakkan gejala–gejala kebangkitan. Hal ini didukung oleh pencabutan dari larangan–larangan yang dilakukan pada masa pemerintahan orde lama oleh pemerintahan orde baru.

Pencabutan pelarangan itu membuat perkembangan dan peredaran musik barat kembali marak, artis–artis Indonesia yang sempat beralih ke lagu–lagu daerah ataupun lagu nasional kembali ke jalurnya untuk memainkan jenis musik–musik barat yang mereka gemari dan digemari oleh masyarakat. Di bawah pemerintahan orde baru musik barat seakan bebas dari kekangan, media massa dan RRI tidak lagi menghujat keberadaan musik–musik barat, bahkan RRI yang sempat meniadakan pemutaran musik–musik dan lagu–lagu musisi barat menghentikan aksinya dan mulai aktif memutar musik–musik barat.

Bebasnya musik barat dikonsumsi oleh masyarakat pada tahun 1970-an, membuat gairah dan perkembangan Industri musik di kota–kota besar termasuk di Surabaya kembali bangkit. Surabaya sebagai salah satu kota pusat dari perkembangan dan peredaran musik–musik barat, kembali aktif kehidupan musiknya. Grup–grup musik baru bermunculan dan musisi–musisi baik lama maupun baru bisa kembali aktif bermain, pertunjukan–pertunjukan musik semakin marak, perkembangan musik barat terjadi begitu pesat mengikuti trend musik yang sedang berkembang di dunia.

Jenis–jenis musik barat yang populer dalam masyarakat Surabaya pada tahun 1970-an tidak banyak berubah dari tahun–tahun sebelumnya. Musik–musik hiburan seperti musik rock dan pop masih tetap mendominasi disamping keberadaan musik jazz dan juga musik klasik. Hal ini dikarenakan perkembangan musik barat belum mengalami banyak perubahan seperti di masa sekarang.

a. Musik Rock

Semenjak munculnya musik rock ’n’ roll, perkembangan genre musik ini semakin pesat dan beragam. Musik rock pada dasarnya bertolak dari kebebasan berekspresi dan secara teoritis bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.81 Karena itu perkembangan musik rock begitu pesat dari tahun ke tahun dan bisa memiliki penggemar fanatik yang tidak sedikit. Definisi mengenai musik rock memang cukup banyak, namun satu hal yang pasti menurut Dieter Mack seorang guru besar musik yang mendalami musik barat dan musik tradisional Indonesia, musik rock merupakan jenis musik yang banyak menggunakan vokal dan alat musik elektronis, biasanya memiliki ritme musik yang hidup dimana peran drum set dan gitar sangat besar, disamping itu musik rock merupakan fenomena khas dalam lingkungan metropolitan modern, yakni gaya hidup di kota–kota besar.82

Perkembangan musik rock dari barat yang masuk ke Indonesia dan Surabaya pada tahun 1970-an mulai menunjukkan perkembangan, ini bisa dilihat dengan munculnya beberapa grup musik dengan aliran musik rock baru yang populer di Surabaya. Dimana setelah era rock ’n’ roll muncul beberapa aliran musik rock seperti hard rock, jazz rock, acid rock dan progresif rock. Dari beberapa aliran musik rock tadi, jenis musik rock yang cukup populer di Surabaya adalah rock ’n’ roll dan hard rock ( Heavy Sound ). Grup–grup musik barat atau musisi yang mengusung aliran tersebut seperti The Beatles, The Rolling Stones (rock’ n’ roll), Deep Purple, Grand Funk, The Led Zeppelin, Jimmy Hendrix, Rod Stewart, Queen (hard rock). Musik rock ini berpengaruh terhadap lahirnya grup- grup musik rock di Surabaya seperti AKA dan SAS.

b. Musik Pop

Selain musik rock, musik pop adalah salah satu aliran musik yang juga digemari masyarakat di Surabaya. Definisi mengenai musik pop memang agak kabur karena dari satu sisi tidak jauh berbeda dengan musik rock terutama mengenai keberadaannya sebagai musik hiburan. Menurut Dieter Mack musik pop lebih mengarah langsung kepada emosi–emosi dasar, memiliki frase melodi sederhana dan mudah dipahami.83 Tetapi musik pop kurang beragam bila dibandingkan dengan musik rock.

Keberadaan musik pop bisa dilihat dari kepopuleran beberapa penyanyi, kelompok vokal ataupun grup band barat seperti Elton John, The Bee Gees, Michael Jackson, Stevie Wonder, Dianna Ross, ABBA dsb. Bahkan kalau dilihat dari tangga lagu, lagu–lagu dari musisi pop lebih sering menempati posisi puncak bila dibandingkan para musisi rock pada tahun 1970-an.84

Disamping kedua aliran musik diatas, ada juga aliran musik lain yang juga diminati dan digemari oleh masyarakat Surabaya yakni musik jazz dan musik klasik. Kedua aliran musik tersebut memang aliran musik yang sudah lama berkembang dan menyebar di Surabaya, karena baik musik jazz, klasik maupun blues merupakan aliran musik yang sudah jauh berkembang sebelum munculnya musik–musik hiburan seperti rock dan pop.

c. Musik Jazz

Musik jazz adalah salah satu akar dari perkembangan musik hiburan yang berkembang di dunia selain blues. Awal dari kemunculan musik jazz, masih sangat sulit untuk dipastikan, namun para pengamat dan sejarawan yang meneliti musik jazz menyepakati tahun 1917 adalah tahun munculnya jazz, karena pada tahun itulah istilah jazz pertama kali diperkenalkan dan digunakan untuk menyebutkan jenis musik ini.85

Perkembangan musik jazz yang mulai dibuat lebih menghibur dan lebih ringan pada sekitar tahun 1930-an (Munculnya era musik swing), menjadi awal dari munculnya musik pop pada tahun–tahun setelahnya. Musik jazz lahir dan berkembang di Amerika, musik ini memang dimainkan dan diperkenalkan oleh golongan masyarakat kulit hitam (Budak) yang tinggal di Amerika, seperti dalam tulisan Gunther Schuler, yang menyatakan bahwa musik baru ini berkembang dari bermacam–macam tradisi musik yang multi ras. Musik yang ada di Amerika itu merupakan suatu percampuran antara ritme–ritme dan elemen ekspresif dari musik Afrika berpadu dengan ritme dan harmony dari musik Eropa.86

d. Musik Klasik

Istilah musik klasik mengacu kepada musik–musik yang berkembang di wilayah Eropa terutama dimulai sejak sekitar abad ke 17-18, dimana pada masa ini mulai muncul jenis musik melodi yang menjadi awal dari musik klasik pada abad–abad berikutnya. Pada abad ini musik yang muncul disebut juga musik jaman Barok dan Rococo, dengan menghasilkan komposer seperti Johann Sebastian Bach dan George Frederik Handel.87

Musik ini berkembang terus dengan melalui perkembangan zaman, dimana kemudian pada abad XVIII muncul musik Simfoni dengan komposer seperti Stamitz, Franz Joseph Hadyn dan Wolfgang Amadeus Mozart, dan berkembang juga musik aliran Romantik dari komposer seperti Beethoven, Schubert, Chopin, Lizst, Belioz, Wagner dan Brahms88. Pada masa itulah yang juga dikenal dengan masanya musik klasik, dimana istilah klasik yang muncul pada abad pertengahan tersebut mengacu pada penggunaan kembali nilai–nilai klasik dari Yunani kuno seperti keseimbangan, pengendalian, dan kejelasan dalam bentuk pada kesusteraan dan kesenian di Eropa.89

Perkembangan musik klasik yang muncul dan kemudian mempengaruhi perkembangan musik modern seperti jazz dan blues adalah kemunculan musik klasik modern yang dipelopori oleh komposer–komposer seperti: Claude Debussy, Seorang komponis Prancis yang memiliki ketertarikan dengan musik timur seperti gamelan Bali, musik Arab dan Tiongkok.90 Kemudian ada juga Arnold Shoenberg (1874-1951), seorang komponis kelahiran Wina Austria yang melahirkan atau mempopulerkan teknik twelve tone (12 nada), sebuah teknik permainan yang menggunakan semua nada dalam tangga nada kromatik, dengan tujuan untuk menghindari pembentukan rasa tonalitas.91 Musisi atau komposer lain yang cukup berpengaruh juga pada masa itu adalah Igor Stravinsky (1882-1971), seorang komposer Rusia yang banyak menghasilkan komposisi musik untuk Ballet.

Popularitas aliran–aliran musik tersebut memang tidak sebesar musik rock maupun pop yang memang sangat digandrungi oleh anak–anak muda di Surabaya maupun di kota–kota lain di Indonesia, akan tetapi musik jazz dan klasik seperti sudah memiliki masyarakat pendengarnya sendiri. Keberadaan dari musik jazz bisa terlihat dari aktifnya para musisi jazz di Surabaya bermain dalam ajang–ajang baik nasional maupun Internasional, musisi seperti Bubbi Chen, Maryono sangat aktif dalam kegiatan bermusiknya pada era 1970-an. Di dalam musik klasik eksistensinya bisa terlihat dari keberadaan sekolah-sekolah musik yang mengajarkan teori–teori permainan musik klasik dan juga cukup seringnya diadakan pertunjukan–pertunjukan musik klasik.92 Disamping itu dalam kontes Bintang Radio dan TV masih diperlombakan jenis musik seriosa yang merupakan teknik vokal dari musik klasik.93

Kegemaran masyarakat Surabaya akan musik barat pada tahun 1970-an, semakin besar karena pada dekade itu cukup mudah mendapatkan kaset ataupun piringan hitam lagu–lagu dari musisi barat yang menjadi idola. Disamping pengaruhnya dalam memunculkan musisi–musisi lokal dari Surabaya, keberadaan musik barat juga memiliki efek dalam mengembangkan beberapa aliran musik lokal Indonesia seperti dangdut94 dan keroncong.95




2. Peran Radio dan Televisi Sebagai Media Penyebar Musik

Penyebaran dari musik barat di Surabaya pada tahun 1970-an memang pesat. Peranan radio sebagai media penyebaran musik lebih besar bila dibandingkan dengan tahun 1950-an, karena radio merupakan media efektif untuk mempromosikan musik.96 RRI yang sudah tidak anti lagi dalam menyiarkan lagu-lagu barat, kembali memperdengarkan musik–musik barat ke masyarakat. Keberadaan acara bintang radio yang sudah diadakan RRI sejak tahun 1950-an tetap dijalankan, bahkan musik dan penyanyinya lebih berkembang karena sudah tidak ada lagi pencekalan terhadap jenis musik barat. Selain itu acara bintang radio semakin berkembang dengan adanya kerjasama RRI dengan TVRI, hal ini membuat acara bintang radio RRI berganti nama menjadi acara Bintang Radio dan Televisi (BRTV).

Maraknya kembali siaran musik barat dan lagu–lagu dari musisi barat di RRI, bisa dilihat dari acara-acara musik yang ada. Acara–acara musik dari RRI menampilkan musik barat seperti rock, pop, jazz sampai musik klasik yang dimainkan oleh musisi barat (lagu barat) maupun dimainkan oleh musisi lokal Indonesia termasuk dari Surabaya, bertebaran setiap harinya. Beberapa contoh acara musik barat di RRI seperti Instrumentalia oleh Bubbi Chen; Persembahan AKA group; Musik dari Nederland; Bubby Chen dan orkesnya; Pojok Jazz; Instrumentalia Barat; Hiburan Pagi dengan Tom Jones; Persembahan Grup musik Borobudur; Lagu–lagu Pop Indonesia; Musik klasik dari Nederland; dan lain-lain. Acara–acara musik tersebut ditayangkan secara bergantian tiap harinya dengan jadwal siaran ataupun hari yang tidak reguler, salah satu acara yang jam dan harinya tetap adalah Pojok Jazz yang hadir tiap hari selasa pukul 21: 30.97

Penyebaran musik barat melalui radio pada tahun 1970-an tidak hanya didominasi oleh RRI, radio-radio swasta sudah mulai bermunculan untuk menemani dan bersaing dengan RRI dalam menghibur masyarakat Surabaya. Kemunculan radio-radio swasta di Indonesia diawali dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 55 tahun 1970 tentang radio Siaran Non Pemerintah.98 Dalam PP tersebut disebutkan pula bahwa pemberian ijin untuk munculnya radio swasta didasarkan atas besarnya minat dari masyarakat untuk menyelenggarakan siaran radio yang berfungsi sebagai media pelayanan sosial.99

Aturan–aturan dan ketentuan yang berlaku bagi pendirian, penyiaran dan perijinan, bentuk siaran radio swasta semuanya tercantum dalam pasal–pasal yang tertera di PP tersebut. Dimana dalam perijinan radio swasta di daerah–daerah di luar ibukota, wewenang dari pemberian ijin dapat diserahkan oleh Menteri Perhubungan kepada Gubernur/Kepala Daerah tingkat I yang bersangkutan.100 Munculnya radio–radio swasta di Surabaya semakin memuaskan masyarakat yang gemar akan hiburan. Radio–radio swasta seperti radio Susana, Merdeka, Suara Surabaya, El Victor yang muncul pada sekitar tahun 1970-an mampu mewarnai dan menyemarakkan siaran musik di Surabaya. Berikut tabel dari beberapa radio–radio swasta yang ada pada tahun 1970-1980. 101







Tabel 3

Radio – radio swasta di Surabaya tahun 1970-1980

Nama Radio
Penanggung jawab
Alamat

Antariksa
Yohni Wibisono
Jl Anggrek no 4 Surabaya

Arjuna
Willyanto Harso
Jl Embong Blimbing no 5

Radio Cakrawala
Abdullah
Jl. Krembangan Bakti no 86

Radio Camar
A.Azis
Jl. Pucanganom Timur II/19

Radio El Victor
Budi Pratikno
Jl. Bunguran no 35

Radio E1.Istara
Saleh S. Bachmid
Jl. Sidodadi no 139

Radio La Victor
Oscar Hasyim Marikara
Jl. Adityawarman no 77

Radio Mercuri
Soemiyo
Jl. Kapas Krampung no 69

Radio Merdeka
Yudho Hebeno
Jl. Walikota Mustajab no. 62

Radio Rajawali
Cipto Darsono
Jl. Kacapiring no 5

Radio Susana Jaya
Bambang Samiaji
Jl. Simolawang Baru V/2




Sumber : PEMDA Jawa Timur, Metropolitan Surabaya & Jawa Timur (Surabaya: Penerangan Daerah Militer VIII/Brawijaya, 1976), hlm. 227-230




Peranan dari radio swasta dalam penyiaran dan penyebaran musik–musik barat di Surabaya tidak hanya sebatas pada memperdengarkan lagu–lagu barat dan lagu–lagu Indonesia, namun radio–radio swasta tersebut juga terlibat dalam peyelenggaraan pertunjukan–pertunjukan musik. Salah satu peranan radio swasta dalam pertunjukkan musik ditunjukkan oleh radio Susana yang bekerjasama dengan radio MTB, Mercury, dan Rajawali menyelenggarakan pertunjukkan SAS in Rock Opera Raden Wijaya.102 Acara tersebut hanya salah satu contoh dari peran serta radio terutama radio swasta dalam penyebaran musik barat di Surabaya.

Tidak hanya radio yang berkembang menjadi media penyebar dan pemasyarakatan musik barat di Surabaya, satu media lagi yang menjadi sarana penyebaran musik adalah Televisi. Keberadaan televisi pada tahun–tahun itu hanya diwakili oleh TVRI sebagai stasiun televisi milik pemerintah dan satu–satunya stasiun televisi yang ada. TVRI mulai muncul melalui sebuah siaran percobaan pada 17 Agustus 1962 yang menyiarkan secara langsung Upacara Peringatan Proklamasi di Istana Merdeka, sedangkan siaran secara teratur baru dapat dilakukan pada 24 agustus 1962, bertepatan dengan Upacara Pembukaan Asian Games IV.103 Hari itu kemudian diresmikan sebagai hari jadi TVRI.

Di Surabaya TVRI baru bisa dinikmati masyarakat pada bulan Juli 1971 setelah diresmikannya Stasiun Pemancar TVRI di Kelurahan Dukuhpakis, kecamatan Karangpilang, kodya Surabaya oleh Gubernur Jawa Timur yakni Moch. Noer.104 Pada saat itu siaran yang dinikmati di Surabaya sepenuhnya merupakan siaran langsung dari siaran TVRI Jakarta, hingga pada 3 Maret 1978 diresmikanlah TVRI Stasiun Surabaya yang dalam siarannya sudah memiliki program acara sendiri selain acara dari TVRI Jakarta.

Acara musik dan hiburan memiliki presentase siaran yang paling besar diantara semua program acara yang ada di TVRI stasiun Surabaya dari 1978–1980. Presentase acara musik dan hiburan pada tahun 1978 mencapai 30%, namun mengalami penurunan pada tahun 1979 sebesar 21% dan pada tahun 1980 menjadi 17%. Penurunan terjadi karena semakin besarnya presentase pemasangan iklan di TVRI, sehingga praktis setiap acara yang ada harus dikurangi.105

TVRI kemudian menjadi media baru dalam mengembangkan dan mempromosikan musik barat, terutama bagi musisi–musisi lokal dari Indonesia. Selain mengadakan program Bintang Radio dan Televisi yang bekerja sama dengan RRI, TVRI juga membuat beberapa program acara musik yang menampilkan para musisi lokal Indonesia, seperti Artista Nada, Vokalis Kita dll. Para musisi Indonesia itu mendapat kesempatan untuk tampil di TVRI dan mempromosikan lagu–lagunya ke masyarakat.

Semenjak kemunculannya besarnya peranan dari TVRI terhadap Industri musik memang benar–benar terlihat, musisi–musisi Indonesia bisa lebih mendongkrak penjualan albumnya bila tampil dalam siaran niaga di TVRI Jakarta. Jika produksi dari perusahaan rekaman daerah bisa muncul di siaran niaga TVRI Jakarta maka penjualan kaset bisa diatas 20.000, namun jika promosi hanya di stasiun TVRI Surabaya bisa mencapai 10.000 kaset sudah bagus.106

Fakta tersebut menunjukkan jika peranan TVRI pusat dalam hal promosi memang lebih besar daripada TVRI stasiun Surabaya, hal ini dikarenakan promosi melalui siaran dari TVRI pusat dipancarluaskan di hampir seluruh wilayah Indonesia, sedang jika melalui siaran musik di acara TVRI Surabaya tentunya hanya melingkupi kawasan Surabaya dan Jawa Timur saja. Selain itu acara siaran musik yang dipancarluaskan dari TVRI pusat memang lebih digemari masyarakat, karena artis–artis yang muncul adalah musisi-musisi yang sedang populer di Indonesia saat itu.107








Bab III

Keberadaan Industri Musik Barat di Surabaya







A. Pengaruh dalam Industri Musik di Surabaya

1. Munculnya Musisi–Musisi Surabaya

Perkembangan musik barat yang kembali marak pada tahun 1970-an tidak hanya membuat popularitas dari musisi dan lagu–lagu barat meningkat dalam kehidupan masyarakat Surabaya, namun juga memunculkan musisi–musisi Surabaya yang populer tidak hanya di Indonesia namun sampai ke luar negeri. Keberadaan musisi–musisi dari Surabaya itu mewarnai perkembangan musik barat di Indonesia.

Pesatnya perkembangan aliran–aliran musik barat terutama dalam musik hiburan seperti rock dan pop, benar–benar memperlihatkan perbedaan yang nyata dalam jenis musik hiburan. Musik pop biasanya dinyanyikan oleh seorang penyanyi (biduan) seperti Tom Jones, sedang musik rock memang lebih identik dengan grup musik seperti The Beatles, Deep Purple, The rolling Stones dll.108 Dalam musik rock terjadi perkembangan baru yakni munculnya aliran musik hard rock (heavy sound) untuk menyaingi musik rock ‘n’ roll yang sudah berkembang sebelumnya. Walaupun saat itu banyak sekali penyanyi dan grup musik yang bermunculan, ada beberapa musisi dan grup musik yang memiliki popularitas dan peran penting dalam perkembangan industri musik barat di Surabaya.

Grup musik AKA (Apotik Kaliasin), oleh masyarakat pemerhati musik Indonesia terutama musik rock grup ini sudah dianggap sebagai salah satu kelompok musik rock legendaris dari Surabaya.109 Peranan dari AKA pada tahun 1970-an sangat besar, mereka merupakan salah satu grup musik yang mempelopori perkembangan musik rock terutama hard rock di Indonesia. Dari grup musik dan musisi – musisi barat inspirasi bermusik para personil di AKA muncul, untuk kemudian melahirkan AKA.110 Inspirasi ataupun pengaruh musik dari musisi–musisi barat tersebut terhadap AKA tidak hanya bisa dilihat berdasarkan aliran musik saja tetapi juga dari gaya ataupun style mereka dalam melakukan pertunjukan musik.

AKA berdiri pada 23 Mei 1967 dengan personil Ucok Harahap (Vokal), Arthur Kaunang (bass), Sunatha Tanjung (Gitar), Sjeh Abidin (drum).111 Kepopuleran dari grup AKA pada awal tahun 1970-an terlihat dari ramai dan suksesnya setiap pertunjukan yang mereka lakukan, baik di Surabaya maupun di kota–kota lain di Indonesia, penonton yang memadati pertunjukan mereka selalu berjubel. Satu cerita yang menarik dari pertunjukan AKA ialah karena kepopulerannya bahkan aktor seperti Roy Marten dan Hendra Cipta mengungkapkan bahwa mereka sempat harus menjual celana jins hanya untuk menonton pertunjukan mereka.112 Disamping jenis musik yang dimainkan memang sedang digemari oleh anak–anak muda perkotaan, salah satu poin plus dari AKA dibanding grup musik lain di Indonesia ialah keberadaan dari vokalis mereka Ucok Harahap atau yang lebih dikenal dengan Ucok AKA.

Bukan hanya dari kemampuan vokal saja yang membuat Ucok begitu populer di dunia musik rock dan dunia musik Indonesia secara umum, tetapi atraksi–atraksi panggung yang ekstrem, aneh dan mungkin tergolong sadis merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan AKA. Beberapa contoh atraksi dari Ucok yang menarik perhatian masyarakat adalah atraksi–atraksi seperti masuk ke dalam peti mati, membawa binatang seperti kelinci hidup dan menyedot darahnya diatas panggung. Ataupun atraksi bernyanyi dengan kepala di bawah, ditusuk pedang, diikat di tiang gantungan, memanjat panggung dan lain lain. Aksi–aksi teatrikal dan sensasional seperti sudah merupakan merek dagang bagi AKA113.

Meskipun kontroversial dalam pertunjukannya, namun AKA tetap mampu menarik animo penggemar musik di Indonesia. Memiliki penggemar yang cukup banyak, ternyata tidak membuat grup AKA bisa bertahan lama. Populatitasnya memang sangat besar di tahun 1970-an, namun kebersamaan mereka harus berakhir di sekitar pertengahan tahun tersebut. Bubarnya AKA ditandai dengan keputusan vokalis mereka Ucok, yang memilih bersolo karir meskipun dia masih menggunakan nama Ucok AKA dalam setiap pementasan yang dilakukannya. Berikut beberapa album dari grup musik AKA : Do what you like (1970), Reflection (1971), Crazy Joe (1972), Sky Rides (1973), Cruel Side of Suez War (1974), Mr Bulldog (1975), setelah resmi bubar AKA masih sempat kembali untuk membuat album Pucuk Kumati (1977) dan kemudian pada tahun 1979 mereka meluncurkan 4 album yang berisi lagu – lagu hits mereka sepanjang karir yakni AKA in Rock, The Best of AKA, AKA 20 golden Hits, dan Puber Kedua.

Bubarnya AKA tidak lantas membuat para personil dari grup musik tersebut menghentikan langkah dalam bermusik, ditinggal vokalisnya ketiga anggota yang lain kemudian membentuk grup musik baru yakni SAS. Nama SAS merupakan kependekan dari nama–nama depan personelnya sendiri yakni Sunatha Tanjung, Arthur Kaunang, dan Syeh Abidin.114 Keberadaan dari SAS ini disamping meneruskan kesuksesan AKA, juga menunjukkan eksistensi Surabaya sebagai kota yang melahirkan musisi–musisi.

Kepopuleran dari SAS tidak kalah dengan AKA, ataupun beberapa musisi dan grup musik yang sedang populer di tahun 1970-an seperti God Bless, The Rollies, Koes Plus ataupun proyek solo dari Ucok AKA yakni Duo Kribo (duet Ucok AKA bersama Ahmad Albar).115 SAS sendiri berhasil mengejutkan industri musik di Indonesia, dengan keberhasilan dari album pertama mereka Baby Rock. Lagu tersebut menembus pasaran musik dan menghiasi tangga lagu di radio–radio Australia.116

Kesuksesan tersebut membuat SAS berhasil menjadi salah satu grup musik rock yang paling berpengaruh di Indonesia pada tahun 1970-an. Para pengamat musik baik dari dalam negeri maupun luar bahkan menganggap SAS lebih memiliki kelas dalam musik yang mereka mainkan dibandingkan AKA yang dianggap lebih identik dengan atraksi–atraksi panggung Ucok AKA, seorang penulis musik dari luar negeri sempat menjuluki SAS sebagai grup musik rock nomor satu di Indonesia. SAS memiliki beberapa perbedaan dari AKA, dari segi musik memang masih berkiblat pada grup musik barat yang menjadi inspirasi AKA, namun SAS menambah perbendaharaan musik mereka dengan memasukkan unsur progresif rock dari grup seperti ELP dan Rush. Selain itu SAS memang lebih memiliki kesan ingin menjual musik daripada aksi panggung, dalam pertunjukannya SAS tidak banyak melakukan atraksi–atraksi teatrikal seperti yang identik dengan AKA.117

Beberapa album SAS hingga tahun 1980 adalah : Baby Rock (1976), Bad Shock(1976), Blue, Sexy, Lady ( 1977), Expectation (1977), Love Moves (1977), Pop Rock Indonesia 1 (1978), Pop Rock Indonesia 2 (1979), SAS 80 (1980).

Disamping dua grup musik rock tadi, ada beberapa musisi berkualitas lain yang juga berasal dari Surabaya dan aktif dalam mendukung perkembangan industi musik barat di Surabaya, diantaranya adalah Bubbi Chen seorang musisi jazz kelas dunia milik Indonesia yang berasal dari Surabaya. Pada tahun 1970-an dia sangat aktif mengembangkan musik barat di Surabaya, dan dianggap sebagai musisi jazz yang memiliki wibawa, serta kualitas yang lebih baik dibandingkan musisi–musisi jazz lain di Indonesia terutama pada tahun 1960 dan 70-an.118

Bubbi Chen lahir di Surabaya pada 9 Februari 1938, dan sejak lahir sudah akrab dengan musik Jazz.119 Keaktifannya dalam Industri musik Surabaya tidak bisa dilihat dari penjualan albumnya, hal ini dikarenakan jenis musik yang dimainkannya yakni jazz. Pada tahun 1970-an musik jazz sangat sulit menarik minat masyarakat karena secara pasar, musik hiburan seperti rock dan pop lebih digemari. Disamping itu jazz memang lebih sulit dimainkan dibandingkan dengan musik rock atau pop, ini menyebabkan penggemarnya mulai berkurang dan hanya terbatas pada orang–orang yang memiliki apresiasi tinggi dan pengetahuan yang cukup terhadap musik. Alasan lain dari menurunnya peminat musik jazz adalah adanya kesan elite yang dimunculkan para musisi dan penikmatnya. Karena kerumitan dari musik Jazz, para penggemarnya menjadi orang–orang snob yang merasa memiliki kelas tersendiri jika bisa menikmati jazz.120

Walaupun musik yang dimainkan secara komersial tidak populer, namun Bubbi Chen sangat terkenal di Indonesia dan dunia Internasional. Karena kemampuannya, dia sering tampil di luar negeri dan membuat namanya sangat populer dikalangan musisi dan pecinta jazz dunia. Di Surabaya dia aktif terlibat dalam perkembangan musik terutama di bidang pendidikan. Pada sekitar tahun 1975 mengajar di YMI, bersama Tamam Husein dia membantu mengembangkan YMI Surabaya yang baru berdiri.121

Tidak hanya di YMI dia sempat mengajar di sekolah–sekolah lain seperti YASMI, dan Kawai Music School.122 Disamping mengajar di sekolah–sekolah musik dia juga memberikan les secara privat, bahkan murid–murid les privat-nya tersebar di Bandung, Malang, Semarang dan kota-kota lain.123 Selain aktif di bidang pendidikan, pada pertengahan tahun 1970-an Bubbi Chen juga mengisi acara pojok Jazz di RRI, dan menjadi musisi pengiring dan bersama grup musiknya tampil di club–club di Surabaya seperti di LCC night club.124

Musisi jazz lain yang juga cukup terkenal dan juga aktif bermain di Surabaya adalah Maryono. Maryono seperti yang sudah dibahas pada bab sebelumnya, sebenarnya sudah aktif bermain musik di Surabaya pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Namun tahun 1970 dia kembali ke Surabaya dan bermain bersama grupnya Maryono and His Gang, dia bermain di beberapa night club di Surabaya (pertama di LCC night club dan kemudian pindah ke Diamond night club).125

Selain tampil secara reguler di club–club Bubbi Chen dan Maryono juga sering tampil mengisi acara festival atau pertunjukan musik jazz yang ada di Indonesia, walaupun pada tahun 1970-an tidak banyak acara musik jazz di Surabaya. Salah satu pertunjukan musik Jazz yang cukup besar adalah Airlangga Rock and Jazz 76. Acara tersebut diselenggarakan oleh senat mahasiswa farmasi UNAIR (Universitas Airlangga), pementasannya dilakukan di Balai Budaya Mitra.126 Pertunjukan jazz tersebut kembali menunjukkan alasan kenapa musik jazz sangat sulit bersaing secara pasar dengan musik rock dan pop, ini terlihat dari jumlah penonton yang hanya memenuhi sekitar ¾ dari kapasitas tempat pertunjukan, aksi panggung dari para musisi jazz juga kurang ekspresif, mereka tidak bisa menarik perhatian penonton dan seakan tidak memperdulikan penonton.127

Disamping para musisi–musisi tadi, cukup banyak juga musisi lain yang muncul di Surabaya. Seperti Asia Grup, Casino Grup, Grup musik Borobudur, dll128 grup–grup musik tersebut biasanya tampil di RRI dengan memainkan lagu–lagu yang sedang populer pada tahun–tahun itu baik lagu Indonesia maupun lagu Barat. Pada sekitar pertengahan menjelang akhir 1970-an muncul Usman Bersaudara yang cukup terkenal, grup Jack Llyod, grup Pretty Sister yang merupakan juara festival musik wanita se-Indonesia tahun 1975.129

Pada saat itu muncul juga penyanyi–penyanyi baru hasil dari ajang kontes–kontes menyanyi yang sedang naik daun. Meskipun cukup terkenal, Peranan ataupun pengaruh musisi–musisi tersebut masih kalah besar dalam perkembangan industri musik di Surabaya bila dibandingkan dengan musisi–musisi yang dibahas sebelumnya seperti AKA, SAS, Bubbi Chen dan Maryono.


2. Sekolah – sekolah Musik dan Penjualan Alat –alat musik

Membahas industri musik tidak hanya membahas musisi–musisi yang bermunculan dan pekembangan aliran musik yang ada. Aspek–aspek lain seperti sekolah musik dan penjualan alat–alat musik merupakan suatu pembahasan yang penting dalam melihat perkembangan industri musik, karena kedua hal tersebut adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam perkembangan industri musik. Keberadaaan sekolah musik tahun 1970-1980 erat kaitannya dengan penjualan alat–alat musik ke Surabaya dan wilayah lain di Indonesia, terutama setelah munculnya YMI (Yayasan Musik Indonesia).

Sebelum kemunculan YMI, tidak banyak terdapat sekolah musik atau instansi tempat memberikan pelajaran bermain musik kepada masyarakat. Hanya ada satu sekolah musik yang ada pada awal 1970-an yakni Sekolah Musik Surabaya yang beralamat di Jalan Embong Trengguli 22.130 Sekolah musik Surabaya ini sebenarnya sudah muncul pada tahun 1960-an131, namun perkembangannya selepas kemunculan sekolah–sekolah musik swasta tidak terdengar lagi. Sebelum sekolah–sekolah musik swasta banyak bermunculan masyarakat yang ingin belajar musik lebih banyak mengambil les musik privat dengan pemusik–pemusik senior baik dari dalam maupun luar negeri (seperti Ucok AKA yang pada saat kecil belajar piano klasik dengan seorang guru musik dari Belanda)132 atau belajar pada musisi lokal Surabaya seperti Bubbi Chen.

YMI merupakan sekolah musik hasil prakarsa Yamaha Music Foundation Jepang dibawah pimpinan Mr Genichi Kawakami. Pendirian YMI di Indonesia pada awalnya muncul dari ketertarikan Mr. Genichi Kawakami untuk membuka Industri Alat musik dan penjualan dari produk–produk alat musik Yamaha di Indonesia.133 Setelah melakukan dua kali kunjungan ke Indonesia yakni pada tahun 1965 dan 1972, Mr Kawakami mulai melihat potensi yang besar untuk mengembangkan pendidikan musik Yamaha di Indonesia. Atas dasar itulah kemudian YMI didirikan (Yayasan Musik Indonesia) disamping untuk mengembangkan pendidikan, sekolah musik juga merupakan aset untuk membantu penjualan alat–alat musik dari Yamaha.

YMI Surabaya atau yang biasa disebut YMI Citarum (karena beralamat di Jalan Citarum 10), merupakan cabang utama dari YMI pusat di Jakarta. YMI pusat lebih dulu berdiri yakni pada 22 Desember 1972,134 sementara cabang Surabaya baru resmi berdiri pada Maret 1975. Pada tahun 1974 YMI sudah melakukan berbagai macam persiapan untuk peresmiannya di Surabaya namun baru pada sekitar bulan Maret 1975 YMI Surabaya resmi dibuka.135 Pada masa awal berdirinya, YMI Citarum juga merangkap sebagai tempat showroom dan penjualan alat–alat musik. YMI dalam memberikan pengajaran musik kepada siwa–siswinya selalu menggunakan alat–alat musik Yamaha.136

Pendirian cabang di Surabaya sebagai cabang utama, didasarkan pada potensi masyarakat Surabaya yang dianggap cukup besar dalam bidang musik disamping itu kondisi ekonomi masyarakatnya tidak berbeda jauh dengan di Jakarta.137 Keputusan tersebut terbukti tepat. Sejak dibuka pada maret 1975 perkembangan dari YMI Citarum sangat pesat. Pada tahun pertama pembukaannya sampai tahun 1980 muridnya terus bertambah, bahkan pada tahun 1980 murid di YMI sudah mencapai 1000 orang.138

Murid–murid dari YMI pada umumnya terdiri dari anak–anak dan remaja terutama usia 14 tahun kebawah, sementara dewasa hanya sekitar 10% saja.139 Hal ini sesuai dengan sistem yang dikembangkan oleh YMI, yakni lebih menekankan pada pembelajaran musik sejak dini. Program yang diberi nama KMA (Kursus Musik Anak) tersebut dimulai pada 1976,140 atau tepat setahun setelah YMI Citarum resmi berdiri. Dalam menunjang program KMA (Kursus Musik Anak) peranan para orang tua murid menjadi faktor eksternal yang sangat penting, terutama dalam membujuk, mendukung bahkan memaksa anaknya, karena memberikan pengertian terhadap anak–anak dengan usia tersebut sangatlah sulit dilakukan.

Pada pertengahan hingga akhir tahun 1970-an muncul saingan–saingan bagi YMI, yayasan–yayasan musik tersebut antara lain : YASMI (Yayasan Seni Musik Indonesia bertempat di Jalan Panglima Sudirman 62), YPPM (Yayasan Pusat Pendidikan Musik bertempat di jalan Ngaglik 20 yang disponsori oleh Lowrey Music sebagai distributor alat musiknya, Lowrey Music Centre dibuka pada tahun 1976 beralamat di jalan Ngaglik No 20 -22), 141 dan juga Kawai music yang membuat sekolah musik dengan nama YKMS (Yayasan Kawai Musik School yang berdiri pada 14 juli 1978).142

Bentuk dan sistem pendidikan dari sekolah–sekolah musik tersebut, sebenarnya tidak sesuai dengan sistem pendidikan sekolah–sekolah pada umumnya. Sistem pendidikan yang ada di sekolah baik sekolah musik maupun sekolah umum, para siswanya harus benar–benar diberi pendidikan dan pengajaran tidak hanya salah satu bagian (pendidikan atau pengajaran saja),143 sementara dalam sekolah–sekolah musik swasta tersebut yang diberikan hanya cara–cara memainkan alat musik.144 Sistem kurikulum pendidikan untuk sekolah musik yang dikeluarkan oleh Musician Institute America meliputi materi–materi seperti teknik bermain (Playing Techniques), teori–teori musik (Music Theory), pengenalan siswa terhadap teknologi dan bisnis musik (Introduction to Bussines and Multimedia Application), sejarah dari perkembangan musik (Music History).145 Materi–materi yang diberikan adalah dasar yang harus dimiliki oleh sebuah institusi musik. Oleh karena itu bentuk dari sekolah musik swasta di Surabaya sama halnya dengan tempat kursus yang hanya memberikan ketrampilan.146 Selain itu para siswanya juga bersekolah di sekolah–sekolah umum biasa, mereka mengikuti pelajaran di sekolah musik hanya sekali dalam seminggu namun jika ada Student Concert para siswa masuk dua sampai tiga kali dalam seminggu.147

Sekolah–sekolah musik swasta tersebut pada umumnya bekerjasama dengan distributor-distributor alat musik, agar mendapatkan lisensi untuk mendirikan sekolah musik. Diperkirakan 90% sekolah–sekolah musik yang muncul merupakan perpaduan dari bisnis penjualan alat musik dan pengajaran untuk memainkan alat musik.148 Sekolah–sekolah musik tidak memiliki wewenang untuk membuka cabang, wewenang sepenuhnya ditentukan oleh produsen alat musik yang mensponsorinya.149 Tanpa adanya sponsor dari produsen, sekolah musik tidak bisa berkembang karena dananya tidak mencukupi sebaliknya penjualan alat musik juga tidak akan laku bila tidak didukung dengan keberadaan dari sekolah musik.150

Eratnya keterkaitan antara sekolah musik dengan penjualan alat–alat musik juga terlihat dari proses promosinya yang banyak terbantu oleh kegiatan–kegiatan dari sekolah–sekolah musik. Disamping melalui iklan–iklan yang dilakukan di surat kabar dan majalah–majalah,151 promosi dilakukan lewat penggunaan alat–alat musik di sekolah-sekolah tersebut dan lewat konser–konser siswa (Student Concert) yang diselenggarakan setiap tahunnya.

Konser–konser siswa (Student Concert) yang dilakukan tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memperkenalkan sekolah musik kepada masyarakat Surabaya. Student Concert juga dilakukan untuk menunjukkan hasil yang telah dicapai oleh murid–murid kepada orang tua mereka, saat itu merupakan momen yang tepat bagi produsen alat–alat musik untuk mempromosikan alat–alat musiknya, karena alat musik yang digunakan dalam Student Concert merupakan alat musik dari produsen yang mensponsori sekolah–sekolah musik tersebut.

Selain melalui Student Concert promosi juga dilakukan dengan mengundang musisi–musisi profesional, seperti yang dilakukan YMI Citarum dengan mendatangkan musisi dari Jepang Sadao Watanabe quartet dengan produk Yamaha sebagai sponsor dari pertunjukkan tersebut.152 Cara lain yang dilakukan ialah dengan mengadakan demo alat musik setiap ada produk – produk baru yang dikeluarkan produsen alat-alat musik. Seperti konser musik klasik dengan menggunakan Electone, konser musik yang menampilkan siswa–siswi, guru–guru musik dan pemusik yang sudah ternama itu, memiliki tujuan untuk mempromosikan Electone.153 Saat itu alat musik yang sedang ramai dipromosikan adalah Electone, dan penjualannya memang paling ramai dibandingkan dengan alat-alat musik lainnya.154

Alasan lain dari dealer–dealer perusahaan alat–alat musik di Surabaya untuk membuka sekolah musik adalah unsur bisnis. Dealer–dealer tersebut akan mendapat diskon 20-30% dari distributor musik pusat (di Jakarta) jika mau membuka sekolah musik155, dari situ terlihat jelas bahwa sebagian besar sekolah musik pada pertengahan tahun 1970-an lebih berorientasi pada bisnis dibandingkan pendidikan musik. Kemudahan–kemudahan dan keuntungan yang bisa didapat itulah yang membuat distributor alat–alat musik akhirnya membuka sekolah–sekolah musik. Namun hal ini biasanya hanya dilakukan oleh dealer–dealer yang memiliki modal cukup, terutama untuk pemanfaatan gedung agar dapat digunakan sebagai sekolah musik selain sebagai tempat menjual alat–alat musik. Dalam penjualan alat–alat musik di Indonesia, Surabaya memiliki peran sebagai distributor untuk wilayah Indonesia Timur. Alat–alat musik dari pusat (Jakarta) dikirim ke distributornya di Surabaya, kemudian melalui distributor tersebut dikirim ke Indonesia Timur.156




3. Pertunjukan–pertunjukan Musik di Surabaya

Presiden Suharto, untuk mendapatkan dukungan dari generasi muda pada tahun 1968 membuat satuan korps musik dalam Angkatan Darat yakni BKS (Badan Koordinasi Seni)-Kostrad yang biasa mengundang penyanyi-penyanyi pop Indonesia untuk bernyanyi disana.157 Semenjak saat itu musisi-musisi baru makin banyak bermunculan dan meramaikan Industri rekaman dan dunia pertunjukkan musik di Indonesia.

Semakin bebasnya para musisi Indonesia berkreasi membuat kualitas musik dan musisi yang ada semakin meningkat. Musisi–musisi lokal mulai banyak menciptakan dan menyanyikan lagu–lagu karya mereka sendiri dalam pertunjukan– pertunjukannya, tidak lagi sekedar menyanyikan lagu–lagu standart seperti lagu perjuangan, lagu–lagu daerah maupun lagu–lagu barat.158

Surabaya sebagai kota besar, memiliki kehidupan musik yang baik, banyak musisi–musisi berkualitas lahir dan mengawali karir profesionalnya. Kesempatan untuk mengadakan pertunjukan musik juga terbuka cukup luas bagi para musisi, walaupun tidak sebanyak di Jakarta namun paling tidak, banyak wadah bagi para musisi untuk berkarya. Perkembangan yang baik dari industri musik di Indonesia, musisi–musisi di Surabaya semakin bebas dan bergairah untuk mengembangkan potensinya. Di dalam penyelenggaraan pertunjukan–pertunjukan musik, Surabaya termasuk kota yang paling sering dikunjungi musisi–musisi baik lokal maupun asing.

Ada beberapa jenis Pertunjukan musik, yang dibedakan dari tujuan penyelenggaraannya yakni: pertunjukan musik untuk hiburan, pertunjukan musik dalam bentuk ajang kontes/festival musik dan pertunjukan musik dari sekolah–sekolah musik Pertunjukan musik untuk hiburan adalah pertunjukan–pertunjukan musik yang diadakan sebagai acara hiburan bagi masyarakat, dengan menampilkan musisi–musisi populer atau grup–grup musik pengiring.

Pertunjukan musik untuk hiburan ini juga bisa dibedakan tempat pertunjukannya dari jenis–jenis atau aliran musiknya, musik–musik yang lebih berirama sweet sound seperti pop dan jazz atau yang biasa digunakan untuk berdansa, seperti musik disko biasanya lebih sering dimainkan di gedung–gedung pertunjukan yang tertutup, atau di night club, bar, hotel dan restoran–restoran yang ada di Surabaya.159 Sementara pertunjukan musik rock lebih sering dilakukan di tempat pertunjukan yang lebih terbuka dan lebih luas, sangat jarang pertunjukan musik rock dimainkan di club–club, cafe ataupun restoran-restoran.

Bentuk pertunjukan di night club–night club tidak jauh berbeda dengan yang ada di cafe–cafe saat ini, band pengiring yang sudah dikontrak oleh suatu night club bermain secara tetap di sana dan pada hari-hari tertentu club–club itu biasanya mengundang artis–artis pop yang sudah terkenal dari dalam ataupun luar untuk menyanyi di sana. Musisi Surabaya yang bermain sebagai band pengiring di club–club tersebut ada Maryono dan Bubbi Chen,160sementara artis–artis pop yang tampil sangat banyak seperti Titiek Puspa, Erni Johan, Iis Sugianto, Bob Tutupoly dan lain–lain, untuk artis luar para pemilik–pemilik club biasanya lebih sering mengundang artis–artis dari Asia Tenggara seperti dari Taiwan dan Filipina.161 Berikut beberapa Night Club dan Bar yang ada di Surabaya pada tahun 1970- 1980.162





































Tabel 4

Bar dan Night Club di Surabaya tahun 1970-1980




Night Club
Alamat

1. Blue Sixteen
Jl Pemuda no 10, Simpang Pojok 2

2. LCC
Jl Tunjungan no 75 I

3. Golden Star
Jl Tegal Sari 2 A.

4. Diamond
Jl Genteng Kali no 93-95

Bar & Restaurant
Alamat

1. Shinta
Jl Jendral Basuki Rahmat no 17-19

2. Ret King Wie
Jl Jagalan no 109 A.

3. Gelora Tirta Samodra
Jl Intan no 2

4. Bumi Ria
Jl Perak Timur no 402.

Sumber : PEMDA Jawa Timur, Metropolitan Surabaya & Jawa Timur (Surabaya: Penerangan Daerah Militer VIII/Brawijaya, 1976), hlm. 180.




Pertunjukan musik pop di gedung–gedung pertunjukan pada umumnya berlangsung atas prakarsa pihak-pihak sponsor dari instansi atau perusahaan tertentu seperti acara hasil prakarsa PT Surabaya Indah, yang menampilkan Titiek Puspa, Mus Mualim dan juga acara dari Queen Theatre yang menampilkan penyanyi–penyanyi dari Taiwan.163

Pertunjukan musik rock lebih sering dilakukan di tempat–tempat seperti di TRS (Taman Remaja Surabaya), Gelora 10 November, Gelora Pancasila ataupun gedung – gedung yang biasa digunakan untuk pertunjukan musik. Beberapa contoh pertunjukan musik rock seperti konser AKA & The Rollies (8 Juli 1972 di Gelora 10 November) SAS vs Fly Tunes (20 Agustus 1976 di TRS), konser SAS in Rock Opera (7 Juli 1979), konser Usman Bersaudara (31 Agustus 1976 di TRS), konser The Rollies & SAS (2 April 1976 di Gelora 10 November)164 dan lain – lain.

Dalam pertunjukan–pertunjukan musik, peran sponsor sangatlah penting, tanpanya pertunjukan tidak akan terlaksana dengan baik. Pertunjukan musik hiburan tidak berlangsung secara reguler, kecuali di night club–night club, hotel–hotel atau restoran–restoran. Pertunjukan musik baru diadakan jika ada sponsor maupun promotor yang bersedia dan tertarik menyelenggarakan acara musik, namun yang paling sering jika menyambut suatu event tertentu seperti Malam tahun Baru atau yang sering disebut malam Old and New.165

Perijinan untuk menyelenggarakan pertunjukan musik hiburan baik musik rock maupun musik pop tidaklah jauh berbeda, penyelenggara acara musik hiburan harus mengajukan surat permohonan kepada beberapa Instansi pemerintah daerah terkait yang ada di Surabaya dan memperoleh ijin dari instansi–instansi tersebut sebelum pertunjukkan musik bisa terlaksana. Beberapa instansi pemerintah yang berhubungan dengan perijinan pada saat itu adalah Walikotamadya Surabaya, Dinas Pendapatan Daerah, Kepala Bagian Keuangan, Kepolisian Surabaya, Sub Inspektorat Daerah, Departemen Pendidikan & Kebudayaan, Up. Kasie Kebudayaan KMS (Kotamadya Surabaya), Kantor Arsip, dan Yayasan pemilik tempat pertunjukan yang akan digunakan.166 Kepada instansi–instansi pemerintah itulah para penyelenggara pertunjukan harus mengajukan surat permohonan ijin, setelah disetujui oleh Walikotamadya, penyelenggara acara musik diwajibkan untuk memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut :

Persyaratan tentang ketetapan HTM (Harga Tiket Masuk) pertunjukan tersebut

Persyaratan tentang kewajiban untuk menyesuaikan jumlah karcis masuk dengan fasilitas tempat yang ada, dimana sebelumnya harus diseter (diatur) untuk diperporasi kepada Dinas Pendapatan Daerah

Persyaratan agar penyelenggara segera mengurus Izin Keramaian dan Pertunjukan kepada pihak Kepolisian kota Surabaya

Persyaratan untuk melaksanakan segala tata tertib selama pertunjukan, termasuk tata tertib karcis, pajak dan lain–lain.167

Seperti itulah proses perijinan bagi penyelenggaraan acara–acara musik di Surabaya, asal memenuhi ketentuan–ketentuan yang ada dan berlaku tadi, ijin pertunjukan tidak akan sulit didapat oleh pihak penyelenggara.

Pertunjukan musik dalam bentuk ajang kontes Musik adalah jenis–jenis pertunjukan musik seperti festival Pop Singer, festival gitar atau festival electone dan jenis–jenis ajang pencarian bakat untuk mencari dan menemukan seorang pemenang.168 Ajang–ajang kontes musik merupakan peluang emas bagi para musisi–musisi pemula, agar bisa dilirik oleh perusahaan–perusahaan rekaman.169

Diprakarsai pertama kali oleh RRI lewat acara Bintang Radio, yang kemudian setelah kemunculan TVRI acara tersebut berubah dan berkembang menjadi acara Bintang Radio dan TV. Acara Bintang Radio dan Televisi merupakan acara untuk mencari penyanyi terbaik di tiga kategori yakni Musik Hiburan, Keroncong dan Seriosa.170 Seperti ajang Bintang Radio RRI konsep acara tidak banyak berubah, hanya saja dalam acara Bintang Radio dan TV para pesertanya juga tampil di TVRI tidak seperti sebelumnya yang hanya bisa didengar lewat RRI saja.

Ajang pencarian penyanyi tidak hanya terbatas pada acara BRTV (Bintang Radio dan Televisi), beberapa pihak swasta kemudian juga membuat model acara serupa yang lebih dikenal dengan ajang Pop Singer yang muncul di kota – kota termasuk di Surabaya. Salah satu contoh adalah kejuaran Pop Singer se-Surabaya pada 4 Agustus 1973, acara tersebut disponsori oleh pihak swasta yakni perusahaan Indomilk. Konsep acara yang digunakan sedikit berbeda dengan Bintang Radio dan TV, pada kejuaraan Pop singer tersebut pesertanya wajib membawakan 3 lagu pilihan yakni lagu keroncong, Pop Indonesia dan Pop Barat dan pemenangnya akan diikutkan pada kontes lagu hiburan se-Jawa Timur pada September 1973.171

Acara – acara festival musik seperti pop singer ada juga yang diprakarsai oleh sekolah musik seperti YMI dengan acara Pop Singer Yamaha (yang dimulai sejak tahun 1976), festival band, dan festival gitar.172 YMI juga merupakan sekolah musik pertama yang memprakarsai acara festival Pop Singer, sebelumnya tidak ada sekolah musik di Surabaya yang melakukannya, dalam mengadakan acara tersebut YMI bekerja sama dengan Departemen Pendidikan & Kebudayaan dan RRI.173

Pertunjukan musik dari Sekolah–sekolah musik adalah Student Concert. Student Concert hanya diikuti oleh siswa dari sekolah–sekolah musik, berbeda dengan festival musik yang diprakarsai YMI dimana semua lapisan masyarakat boleh mengikutinya. Sumber dana dari acara Student Concert murni dari sekolah musik itu sendiri tanpa ada bantuan dari pihak lain (diluar produsen alat musik yang mensponsori tentunya).174

Pertunjukan Student Concert biasanya diadakan di Hotel–hotel dan gedung pertunjukan yang biasa digunakan dalam pertunjukan musik seperti di Balai Pemuda Mitra atau di Gelora Pancasila. Perijinan dari Student Concert sama persis dengan perijinan yang diperlukan untuk mengadakan pertunjukan musik hiburan dan pertunjukan musik lainnya.175 Dalam hubungannya dengan pemerintah kota Surabaya pertunjukan–pertunjukan musik yang ada cenderung disetujui dan tidak terlalu mendapat kesulitan dari perijinannya, asalkan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu memenuhi persyaratan–persyaratan dari instansi–instasi yang terkait dengan perijinan.

Dukungan dari pemerintah kota Surabaya terhadap pertunjukan-pertunjukan musik yang ada di Surabaya terlihat dari surat Walikotamadya Surabaya. Surat tersebut mengenai langkah–langkah persiapan pemerintah kota Surabaya dalam menyambut Tahun Baru, dalam surat tersebut walikota sangat mendukung kegiatan pertunjukan–pertunjukan musik yang akan diadakan karena akan banyak mendatangkan keuntungan bagi pemerintah Kotamadya Surabaya, lebih lanjut walikota meminta agar pihak–pihak terkait bisa melakukan pengawasan dan tindakan koordinasi sebaik–baiknya agar disamping keuntungan bagi Pemerintah Kotamadaya Surabaya dapat masuk secara maksimal, keamanan dari pertunjukan–pertunjukan musik yang ada bisa terjaga.176

Mengenai pendapatan Pemda KMS, pendapatan dari pertunjukan–pertunjukan dan konser musik sebanyak 5 juta rupiah dan dari tempat–tempat hiburan sebesar 2 juta rupiah, jumlah tersebut termasuk angka yang cukup besar walaupun memang sumber pendapatan terbesar Pemda Surabaya bukan berasal dari pertunjukan–pertunjukan musik.177 Namun pendapatan tersebut tiap tahunnya bisa berubah tergantung dari berapa banyak pertunjukan musik yang ada di Surabaya.







B. Apresiasi Masyarakat Surabaya terhadap Musik Barat

1. Golongan Konsumen Musik Barat

Pesatnya perkembangan industri musik barat di Surabaya tidak bisa lepas dari satu faktor yang penting yakni keberadaan penikmat atau penggemar. Para konsumen musik barat tidak hanya dibedakan berdasarkan segi usia, juga bisa dilihat dari tingkat pendidikan yang dimilikinya. Penggemar musik Barat berasal dari orang–orang terpelajar, paling tidak sudah mengenal pelajaran Bahasa Inggris karena umumnya lagu–lagu Barat yang laku terjual di dunia adalah lagu–lagu dengan lirik Bahasa Inggris.178

Bisa dipahami bahwa para konsumennya terdiri dari orang–orang yang memiliki tingkat pendidikan yang cukup, dan memiliki pengetahuan tentang musik. Orang–orang yang memiliki pengetahuan musik barat kemudian sebagian besar menjadi musisi–musisi lokal yang mengembangkan musik barat di Indonesia, kemudian lahir musik–musik pop dan rock dari musisi–musisi tersebut yang memiliki lirik berbahasa Indonesia. Melalui perkembangan itulah musik Barat di Indonesia menjadi lebih luas penggemarnya. Pada intinya golongan penggemar musik barat di Surabaya bisa dikategorikan ke dalam dua golongan yakni penggemar musik hiburan seperti rock dan pop dan penggemar musik–musik yang serius dan sedikit rumit seperti musik klasik dan jazz.

Penggemar dari musik–musik hiburan seperti rock dan pop memiliki kecenderungan mengarah ke anak-anak muda. 179 Remaja merupakan pangsa pasar yang paling penting dalam industri musik karena mereka sebagai pembeli terbesar produk musik musik barat, selain itu lagu–lagu barat pada umumnya memiliki lirik yang bertemakan cinta yang sangat akrab dengan kehidupan anak–anak muda.180 Kemunculan grup–grup musik dan penyanyi-penyanyi baru yang terdiri dari anak–anak muda merupakan imbas dari kegemaran akan musisi–musisi dan musik barat, sebelum menjadi musisi mereka adalah penggemar musik dan lagu–lagu barat dan sangat terinspirasi olehnya. 181

Di luar golongan yang menjadi musisi, golongan anak-anak muda perkotaan seperti pelajar dan mahasiswa yang tidak memiliki bakat atau kesempatan menjadi musisi dan tidak lebih sebagai penikmat musik, hanya mendengarkan musik melalui radio–radio, piringan–piringan hitam, dan kaset–kaset yang beredar, namun para penggemar tersebut adalah aset bagi para musisi terutama musisi lokal agar karirnya bisa terus berjalan. Semakin banyak seorang musisi atau sebuah grup musik memiliki penggemar maka semakin panjang karirnya di industri musik.182 Tidak hanya menjadi dominasi anak–anak muda, pengemar musik hiburan (Rock dan Pop) juga ada yang berasal dari orang–orang yang lebih dewasa seperti golongan pekerja ataupun pejabat–pejabat.

Golongan–golongan masyarakat yang sudah mapan, seperti para pejabat cenderung lebih menyukai musik–musik pop karenanya mereka sering menikmati musik–musik pop yang dimainkan di club–club dan restoran–restoran ataupun acara–acara musik yang mewah di gedung–gedung pertunjukkan Suasana yang nyaman dan eksklusif merupakan sarana pelepas lelah yang tepat bagi para Pejabat.183

Musik jazz dan klasik yang sedikit rumit, tidak banyak digemari masyarakat umum. Penggemarnya cenderung berasal dari orang – orang yang bisa memahami atau memainkan jenis musik tersebut. Oleh karena itu penggemar jenis musik tersebut kebanyakan adalah musisi–musisinya sendiri,184 ataupun anak–anak yang sedang mempelajari musik tersebut. Karena itulah penggemar musik jazz maupun klasik tidak sebanyak musik hiburan.


2. Penjualan Album Musik di Surabaya

Penjualan album merupakan langkah penting bagi seorang musisi, jika ingin menghasilkan pendapatan dan dikenal masyarakat, untuk itu diperlukan perusahaan rekaman.185 Perusahaan rekaman membantu membuat, mendistribusikan dan mempromosikan album rekaman seorang musisi.186 Dengan segala perubahan dan perkembangan yang terjadi, industri rekaman pun tumbuh semakin pesat seiring dengan kemunculan dari aliran–aliran musik dan musisi-musisi baru.187

Penjualan album di kota–kota besar di Indonesia, sangat erat kaitannya dengan keberadaan dari perusahaan rekaman yang sebagian besar berpusat di Jakarta. Pada tahun 1970-an setelah dicabutnya pencekalan terhadap musik barat perusahaan–perusahaan rekaman semakin banyak yang bermunculan, di Jakarta tercatat perusahaan rekaman seperti Irama, Remaco, Dimita, kemudian disusul oleh Aquarius, Hins Collection, Nirwana, TOP, Eterna, Contessa, Perina, Saturn, King's Records, Atlantic Records, YESS, dan Golden Lion yang lebih menekankan pada perekaman lagu–lagu barat.188 Di Surabaya hanya tercatat dua perusahaan rekaman yakni Wira Dharma dan Bina Musika. 189 Sedikitnya jumlah perusahaan rekaman di Surabaya dikarenakan sulitnya bersaing dengan perusahaan–perusahaan rekaman yang ada di Jakarta, pasar distribusi dikuasai oleh perusahaan–perusahaan Ibukota serta distributor–distributornya di Surabaya. Perusahaan-perusahaan seperti Wira Dharma dan Bina Musika produksinya masih sangat terbatas seperti contoh Wira Dharma yang sekali rekaman hanya mampu memproduksi sekitar 5000 kaset saja.190 Dengan produksi yang sedikit, mereka harus bersaing penjualannya dengan produksi–produksi dari perusahaan rekaman di Jakarta yang sangat kuat pasarnya. Sistem promosi dan strategi pemasaran yang baik membuat perusahaan rekaman Ibukota memiliki jaringan promosi yang lebih luas, ini sangat menunjang keberhasilan dan kesuksesannya.191

Kondisi itu didukung juga dengan kenyataan bahwa perusahaan–perusahaan rekaman di Jakarta memiliki artis–artis populer yang penjualannya mampu mengalahkan artis–artis lokal yang dimiliki oleh perusahaan rekaman di Surabaya. Musisi-musisi dari Surabaya yang terkenal seperti Pretty Sister, AKA, SAS pun lebih memilih bekerja dengan perusahaan rekaman Jakarta seperti Golden Hand dan Nirwana.192 Karena memiliki potensi pasar dan penjualan yang lebih bagus.

Seperti halnya penjualan alat–alat musik. Di dalam industri rekaman, Surabaya juga berposisi sebagai distributor album–album musik untuk wilayah Indonesia Timur. Produksi rekaman, dari Jakarta datang ke Surabaya dan kemudian oleh distributor di Surabaya di pasarkan ke seluruh wilayah–wilayah di Indonesia Timur seperti Makasar, Ambon, Bali. Proses distribusi dari Jakarta dilakukan lewat kereta api.193 Hal tersebut yang membuat Surabaya rentan terhadap aksi pembajakan, seperti yang dilakukan distributor dari Remaco pada tahun 1964 di Surabaya yang merekam ulang produksi rekaman dari Remaco dan dijual secara ilegal ke wilayah Indonesia Timur.194

Distributor rekaman di Surabaya juga mengirim ke beberapa toko–toko kaset yang ada seperti toko Gaya Irama di jalan Kapasan 14, Seni music di Wijaya Shop, toko Yupiter dll,195 selain itu toko-toko kaset maupun piringan hitam juga bisa dijumpai pada pusat–pusat pertokoan serba ada di Surabaya yakni Apollo (Jl Tunjungan no 102), Siola (Jl Tunjungan no 1), Wijaya (Jl Bubutan no 1-7).196

Disamping penjualan lagu–lagu dari musisi Indonesia yang direkam langsung oleh perusahaan–perusahaan rekaman Indonesia tadi, beberapa perusahaan rekaman juga merekam ulang lagu–lagu barat dan mengedarkannya sendiri tanpa ijin ke Surabaya dan wilayah lain di Indonesia. Perusahaan–perusahaan perekam lagu barat bahkan membuat asosiasi sendiri yakni APNI (Asosiasi Perekam Nasional Indonesia) pada tahun 1975.197 Lagu–lagu barat yang terjual bebas di Indonesia dalam bentuk piringan hitam direkam ulang, kemudian hasil rekamannya dipindah dan dijual ke dalam bentuk kaset. Hasil produksi ini bisa dilihat dari kaset lagu–lagu barat yang terdiri dari kumpulan penyanyi–penyanyi dan grup–grup musik yang beredar di Surabaya. Lagu-lagu barat pada tahun 1970-an tidak ada yang dijual dalam bentuk kumpulan artis atau musisi, hanya seorang penyanyi atau satu grup saja dalam bentuk album yang berisi sekitar 10, 12 lagu atau berbentuk single.198 Mudahnya proses perekaman lagu–lagu barat di Indonesia terjadi karena Indonesia tidak mengikuti konvensi Bern yang membahas mengenai Hak Cipta.199 Indonesia pada saat itu tidak tercatat dalam UU Hak Cipta Internasional.200

Penjualan lagu–lagu barat itulah yang menjadi lahan bisnis paling menguntungkan dari perusahaan–perusahaan rekaman Ibukota tersebut, karena tanpa harus membayar royalti kepada musisi barat rekaman lagu–lagu barat bisa distribusikan ke Surabaya secara bebas dengan harga yang lebih murah daripada album lagu barat yang asli, di Surabaya dan di kota–kota besar lain di Indonesia lagu–lagu barat tersebut masih lebih laku secara pasar daripada lagu–lagu dari musisi Indonesia sendiri,201 dan jika dicermati musisi–musisi yang muncul di Surabaya memang mengkiblatkan diri dengan musisi–musisi barat.

Masalah pembajakan terhadap rekaman–rekaman dari artis–artis Indonesia, yang dilakukan oleh distributor–distributor album rekaman termasuk di Surabaya juga berkembang makin marak, hal ini kemudian membuat para pelaku Industri Rekaman membentuk GIRI (Gabungan Industri Rekaman Indonesia) untuk mengatasi masalah pembajakan, namun karena tidak memberikan suatu perkembangan yang berarti organisasi tersebut kemudian diganti menjadi ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia) pada 1 Januari 1978, masih dengan tujuan yang sama.202 Pendirian ASIRI ternyata juga belum bisa mengatasi masalah pembajakan yang terjadi, faktanya hingga kini pembajakan tetap berjalan tidak hanya di Surabaya tetapi di hampir seluruh kota di Indonesia. Berdirinya asosiasi industri rekaman nasional tersebut justru menjadi suatu hal yang ironis, karena perusahaan-perusahaan rekaman nasional yang saat itu sedang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari pembajakan yang mereka lakukan terhadap lagu–lagu Barat, ternyata juga merasa dirugikan oleh pihak–pihak yang berusaha melakukan hal yang kurang lebih serupa dengan yang mereka lakukan.


















































































BAB IV




KESIMPULAN







Musik adalah bahasa yang Universal, perkembangannya telah mampu mewarnai kehidupan banyak orang. Hingga kini bisa dilihat bagaimana perkembangan musik telah berubah menjadi suatu lahan Industri. Di dalam kajian singkat ini, telah dibahas mengenai perkembangan industri musik barat di Surabaya.

Musik barat yang masuk ke Surabaya sejak jaman kolonial telah berkembang dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Musik barat bersifat sangat eksklusif pada masa kolonial, dengan aksesnya yang hanya diperuntukkan bagi para masyarakat Eropa. Pada masa kemerdekaan Indonesia musisi–musisi dari Surabaya mulai banyak bermunculan, seperti Jack Lesmana, Maryono, Bubbi Chen dan Bill Saragih mereka memiliki kualitas yang sangat membanggakan. Penyebaran dari musik barat pada awal masa kemerdekaan lebih banyak terjadi lewat radio–radio, baik RRI ataupun radio asing berbahasa Inggris yang masih bisa dipancarluaskan di Surabaya pada saat itu, seperti BBC, VOA, dll.

Perkembangan dari musik barat yang sedang pesat–pesatnya terpaksa harus mengalami masa suram, pada awal tahun 1960-an. Melalui pidato Bung Karno yang berjudul Manipol Usdek, beliau menyerukan pelarangan terhadap semua bentuk penyajian dari musik barat di Indonesia. Sejak saat itu pemerintah secara perlahan mulai melakukan pencekalan–pencekalan terhadap musik barat, dari pelarangan terhadap musisi–musisi yang memainkannya, pencekalan dan razia terhadap penjualan album lagu–lagu barat, sampai razia terhadap anak–anak muda yang dianggap meniru gaya dari musisi–musisi barat terutama The Beatles.

Pelarangan dari pemerintah sangat kontroversial, dengan dasar–dasar pengertian musik yang tidak jelas mereka membuat peraturan yang melarang kebebasan berekspresi dari warga negaranya sendiri. Padahal keberadaan musik barat telah begitu melekat dalam kehidupan kesenian dari bangsa Indonesia, konsepsi musik barat telah melahirkan lagu–lagu nasional Indonesia. Seperti lagu Indonesia Raya ciptaan W.R. Supratman yang sebenarnya mengambil dari salah satu lagu jazz. Hal tersebut hanya menunjukkan betapa kegiatan seni bisa mempengaruhi dan sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan politik dalam sebuah pemerintahan.

Selepas pemerintahan orde lama tumbang dan digantikan orde baru, perkembangan musik barat di Indonesia kembali pulih dengan dicabutnya pelarangan an pencekalan terhadap musisi Barat. Penyebaran musik pada era 1970-1980 tidak hanya didominasi oleh RRI saja, kemunculan radio–radio swasta di Surabaya dan juga TVRI semakin memanjakan masyarakat penggemar musik. Di bidang pendidikan musik, sekolah – sekolah musik swasta yang bermunculan tidak memiliki bentuk pendidikan dari sekolah yang sesungguhnya. Bentuk dari sekolah–sekolah musik tersebut lebih mirip kursus, hal ini dikarenakan pendirian sekolah–sekolah musik tersebut lebih berorientasi pada unsur bisnis yang berkaitan dengan penjualan alat–alat musik.

Perkembangan industri rekaman juga semakin meningkat dengan banyaknya perusahaan rekaman yang muncul, namun sayangnya di Surabaya hanya terdapat dua perusahaan rekaman saja yakni Bina Mustika dan Wira Dharma itupun kondisinya sangat memprihatinkan. Dominasi dari perusahaan rekaman Jakarta, membuat perusahaan rekaman di Surabaya sangat sulit bersaing, pasar distibusi musik dikuasai oleh perusahaan–perusahaan yang ada di Jakarta. Permasalahan lain dari indutri rekaman di Surabaya ialah mengenai pembajakan yang begitu merajalela di Surabaya, seperti pembajakan yang dilakukan distibutor perusahaan rekaman Remaco. Kondisi tersebut timbul karena posisi Surabaya sebagai distributor album untuk wilayah Indonesia Timur. Namun kondisi Industri rekaman nasional pun sebenarnya sangat tidak sehat, perusahaan-perusahaan rekaman di Jakarta juga banyak melakukan pembajakan terhadap lagu–lagu barat. Akibat absennya Indonesia dalam konvensi Bern tentang hak cipta, lagu–lagu barat bisa dengan seenaknya direkam ulang dan diedarkan dengan harga yang lebih murah oleh perusahaan–perusahaan rekaman tersebut.

Perkembangan musik barat yang pesat pada tahun 1970-an tidak diimbangi oleh sistem yang baik, pemerintah tidak memberikan tanggung jawab yang lebih terhadap para pelaku industri musik. Bagaimana pendidikan musik tidak benar–benar dikembangkan, hanya memberi ijin untuk membuat tempat–tempat kursus saja dengan memakai embel–embel sekolah musik. Hal tersebut tidak membantu melahirkan musisi–musisi yang intelektual, mereka hanya bisa bermain musik tidak memiliki pengetahuan dan estetika dalam bidang musik.

Orang–orang industri rekaman berkoar–koar soal pelanggaran hak cipta terhadap album musisi indonesia yang dibajak oleh distributornya di Surabaya, namun mereka sendiri membajak lagu–lagu barat. Pemerintah Indonesia pun sama sekali tidak mau tahu dengan kejahatan yang dilakukan anak bangsanya sendiri. Apalagi dengan terpusatnya segala sesuatu di Jakarta, Surabaya tidak bisa berdiri sendiri dalam mengembangkan industri musik segala sesuatunya harus mengacu dengan apa yang ada dan terjadi di pusat.



















1 “Musik Ngak-ngik-ngok” diakses dari www.messias.8k.com tanggal 10 Agustus 2005.


2 Suka Hardjana, op.cit., hlm. 12-13.




3  Suka Hardjana, Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: Kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm. 225.




4 Ibid., hlm. 245-248.




5 Suka Hardjana, op.cit., hlm. 12.




6 Wawancara dengan Betty, hari rabu 8 maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6

7 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




8 Suka Hardjana, , Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm. 245 – 248.


9 Ibid., hlm. 24.




10 Suka Hardjana, “Catatan Musik Indonesia Fragmentasi Seni Modern yang Terasing” dalam jurnal kebudayaan Kalam, 1995, hlm. 11.




11 Sawung Jabo dan Suzan Piper, op.cit., hlm. 11.




12 Suka Hardjana, Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm. 219 -237.




13 Ibid., hlm. 247-248.




14 Ibid., hlm. 13.

15 Suka Hardjana, Corat–coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003.




16 Suka Hardjana, Catatan Musik : Fragmentasi Seni Modern yang Terasing. “Catatan Musik Indonesia Fragmentasi Seni Modern yang Terasing”, dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, 1995.




17 Samboedi, Jazz Sejarah dan Tokoh- tokohnya (Semarang : Dahara Prize,1989).




18 David Ellefson, Making Music Your Bussiness: Panduan Memasuki Bisnis Musik (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005).




19 Louis Gotschack, Mengerti Sejarah, (Jakarta : UI Press, 1981), hlm 3.

20 Nugroho Notosusanto, Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer, (Jakarta : Idayu Press, 1978), hlm. 6-12. Aminuddin Kasdi, Memahami Sejarah (Surabaya : Unesa University Press, 2001), hlm. 12.




21  lihat buku Suka Hardjana yang berjudul, Estetika Musik, (Jakarta, 1983).




22  Suka Hardjana, Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm. 4.




23 Ibid., hlm. 245.




24 Suka Hardjana, “Catatan Musik Indonesia Fragmentasi Seni Modern yang Terasing”, dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, 1995, hlm. 5-7.

25


 Remy Sylado, Menuju Apresiasi Musik (Bandung : Angkasa), hlm. 8-9.




26 Suka Hardjana, Corat-Coret Musik kontemporer, op.cit., hlm. 220-221.




27 Dieter Mack, op.cit., hlm. 7.




28 David Ellefson, op.cit., hlm. 17 – 19.

29 Suka Hardjana, “Catatan Musik Indonesia Fragmentasi Seni Modern yang Terasing”dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, Jakarta : Pt Pustaka Utama Grafiti, 1995), hlm. 6.

30


 Ibid., hlm.5-7.

31 Mengenai konser–konser musik di masa lalu terutama di masa sebelum era pengawetan terhadap karya–karya musik ke dalam Piringan Hitam dan ditemukaannya radio, musik merupakan sebuah pertunjukkan seni yang bisa dilakukan mungkin hanya sekali dalam sebulan di tempat–tempat khusus dan juga didengarkan oleh kalangan masyarakat tertentu, yang biasanya golongan bangsawan kelas elite. Dimana pertunjukkan musik adalah suatu aktifitas penunjuk status dari sebuah golongan masyarakat. Sumber Suka Hardjana,Corat–Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm. 220.




32 Einmaligkeit berasal dari kata Einmalig yang artinya sekali bunyi sekali dengar, begitulah seharusnya sifat musik, terutama sebelum penemuan radio dan gramophone yang bisa menghapus keterbatasan dari pertunjukkan musik. Radio dan Gramophon mampu mengawetkan dan melipatgandakan suara –suara musik untuk diperdengarkan secara berulang – ulang ke masyarakat luas. Suka Hardjana, Ibid., hlm. 220-221.

33 Mc Allister, Seaport of The Far East: Historical and Descriptive Commercial and Industrial Fact, Figures and Resourcess. Second edition (London : WHL. Collingride & Aldergate Street, 1925), hlm. 339.




34 Suka Hardjana, “Catatan Musik Indonesia Fragmentasi Seni Modern yang Terasing” dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, Jakarta : Pt Pustaka Utama Grafiti, 1995), hlm. 8-9.




35 Pada masa itu Surabaya memang kota yang sangat akrab dengan musik barat, disamping musik klasik yang sering diperdengankan dan dipertunjukkan di tempat – tempat hiburan( musik klasik biasanya dipertunjukkan dengan bentuk Orkestra dengan banyak musisi) musik jazz juga sudah mulai diperdengarkan setelah musik jazz tersebut bisa merebut minat masyarakat Di Eropa sendiri. Sumber dari Dukut Imam Widodo, Soerabaia Tempo Doeloe, (2002), hlm 160 – 161.




36 Mc Allister , op. cit., hlm 376.

37 Dukut Imam Widodo, op.cit., hlm. 318.




38 Mc Allister , op. cit., hlm. 376.




39 Suka Hardjana, Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003) hlm. 284.

40 Dukut Imam Widodo, op.cit., hlm. 160 -161.

41 Ibid., hlm. 155.




42 Ibid., hlm. 155.




43 Samboedi ,Jazz: Sejarah dan Tokoh – tokohnya (Semarang : Dahara Prize,1989), hlm. 216.




44 Suka Hardjana, op.cit., hlm. 284.

45 R.M. Soedarsono, Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi (Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1998), hlm. 38.




46 Ibid., hlm. 39.

47 Swing adalah salah satu jenis hasil perkembangan aliran dari musik Jazz, dimana era swing ini dimulai pada dekade 1930-an di Amerika. Era swing ditandai dengan munculnya jazz band dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti improvisasi, sinkopasi dan blue note (nada yang merendah pada not ketiga dan ketujuh, merupakan ciri khas musik blues dan jazz). Hal ini yang membuat Jazz kemudian bisa diterima juga oleh masyarakat Eropa, karena irama musik Swing yang bersifar popular tersebut sangat cocok untuk berdansa. Data diperoleh dari tulisan milik Pradipto Niwandhono berjudul Jazz dan Musik Populer dalam Lintasan Sejarah yang didapat dari Warta Jazz di www.WartaJazz.com




48 Suka Hardjana, “Catatan Musik Indonesia fragmentasi Seni Modern yang Terasing” dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, (Jakarta : Pt Pustaka Utama Grafiti, 1995), hlm. 8




49 Ibid., hlm. 9.







50 Samboedi, op. cit., hlm. 177.

51 Ibid., hlm. 175 dan 177.




52 Ibid ., hlm. 161.

53 Ibid., hlm160-161




54 Theodore K.S, “Industri Musik, Labirin yang Semakin Menyesakkan”, dalam KOMPAS, Selasa 5 November 2002.




55 Suka Hardjana, Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm. 222.




56 Musik Ngak-ngik-ngok” diakses dari www.messias.8k.com tanggal 10 Agustus 2005.




57 Suka Hardjana, op. cit., hlm. 71.




58  Ibid., hlm. 223. Lihat juga Suka Hardjana, Essai dan Kritik Musik ( Yogyakarta : Galang Press, 2004), hlm. 339-340.




59 Suka Hardjana, “Catatan Musik Indonesia fragmentasi Seni Modern yang Terasing” dalam Jurnal Kebudayaan Kalam, 1995, hlm. 9.




60 Suka Hardjana , Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini (Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm 227 – 229.




61 Ibid., hlm. 30.

62 Musik Ngak-ngik-ngok” diakses dari www.messias.8k.com tanggal 10 Agustus 2005.




63 Agus Sopian, ”Lima Raksasa Internasional di Indonesia: Mengapa Indonesia Jadi Pusat Perhatian Musik Dunia?” dalam Majalah Pantau, Mei 2002.




64 Musik Ngak-ngik-ngok” diakses dari www.messias.8k.com tanggal 10 Agustus 2005.




65 Ibid

66 Ibid




67 Ibid




68 Ibid




69 Surabaya Pos 15 Mei 1965, berita mengenai pernyataan dan peringatan Jaksa DJ. L Aroean tentang pertunjukkan musik yang dilakukan Koes Bersaudara di sebuah restoran.


70 Surabaya Post 19 Agustus 1966.




71 Surabaya Pos 23 Juni 1963, berita mengenai razia pemerintah di Surabaya.




72 Sawung Jabo dan Suzan piper, “Musik Indonesia, dari 1950-an hingga 1980-an” dalam majalah Prisma edisi Mei 1987, hlm. 10.




73 Surabaya Post 17 Juni 1965.




74 Surabaya Post 25 Juni 1965.

75 Pada masa itu konfrontasi mengenai Perjuangan Manikebu terhadap larangan Presiden Soekarno memang sedang marak, di Surabaya sendiri pada awalnya para seniman Surabaya amat mendukung Manikebu dan menentang kehendak Presiden Soekarno, namun akhirnya pada mei 1964 para seniman Surabaya tersebut terpaksa tunduk pada Larangan Pemerintah tersebut. Baca D.S,Moeljanto dan Taufiq Ismail, Prahara Budaya: Kilas-Balik Ofensif LEKRA/PKI dkk (1995), hlm. 366.




76 “ Perusahaan Rekaman Irama Hentikan Produksinya” dalam Surabaya Post 29 juni 1967.




77 Theodore K.S, “Pembajakan, Ujung Tombak itu Patahlah Sudah” , dalam KOMPAS, Selasa 5 November 2002.




78 Samboedi, op.cit., hlm. 170.




79 Sawung Jabo dan Suzan Piper, op.cit., hlm. 11.




80 “Musik Ngak-ngik-ngok” diakses dari www.messias.8k.com tanggal 10 Agustus 2005.

81 Dieter Mack dan Tim dosen Sendratasik FPBS-IKIP Bandung, Apresiasi Musik : MusikPopuler (Yogyakarta:Yayasan Pustaka Nusatama,1995), hlm. 35.




82 Ibid., hlm. 35 dan 37.

83 Ibid., hlm. 36.




84 Arsip Pustaka Musik RRI . Tentang Tabel Tangga Lagu Musik Dunia tahun 1970-1980 versi Billboard Musik, hlm. 659-666.




85 Suka Hardjana, Musik Antara Kritik dan Apresiasi ( Jakarta : Penerbit Buku KOMPAS, 2004), hlm. 452.




86 Gunther Schuler, Early Jazz : Its Roots & Musical Development (USA : Oxford University Press,1968), hlm. 3.




87 Tim MGMP, Pendidikan Seni (Surabaya: Trijaya Pustakaraya,1996), hlm. 93.




88 Ibid., hlm. 94.




89 Rhoderick J. McNeill, Sejarah Musik 2 (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia,1998), hlm. 2.


90 Tim MGMP, op.cit., hlm. 94.




91 Rhoderick J. McNeill, op.cit., hlm. 314.




92 Data tentang pertunjukkan – pertunjukkan musik yang terjadi selama tahun 1970- 1980 dalam Surabaya Post.




93 Wawancara dengan Remy Sylado, hari selasa 7 maret 2006, pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




94 William H. Frederick, “Goyang Dangdut Rhoma Irama : Aspek–aspek Kebudayaan Pop Indonesia Kontemporer” dalam Idi Subandy Ibrahim, (ed.) Ecstassy Gaya Hidup, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 260-263. Musik Dangdut yang digandrungi pada tahun 1970-an, merupakan musik dangdut yang dikembangkan oleh Rhoma Irama yakni perpaduan musik Rock Barat denga musik Melayu.




95 Musik Keroncong mengalami perubahan juga pada tahun 1970-an dari hasil pengembangan Idris Sardi. Lihat Suka Hardjana, Esai dan Kritik Musik (Yogyakarta : Galang Press, 2004), hlm. 38-39.




96 David Ellefson, Making Music Your Bussiness: Panduan Memasuki Bisnis Musik (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 73.




97  Surabaya Post jadwal siaran RRI tahun 1975-1980.

98 Arsip Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1970, hlm. 553.




99 Ibid., hlm. 553.




100 Ibid., hlm. 556.




101 PEMDA Jawa Timur, Metropolitan Surabaya & Jawa Timur (Surabaya: Penerangan Daerah Militer VIII/Brawijaya, 1976), hlm. 227-230.




102 Surabaya Post 5 Juli 1979.




103 TVRI Stasiun Surabaya, Jendela di Timur Jawa Dwipa (Surabaya: PT Antar Surya Jaya,1990), hlm.16.




104 Ibid., hlm. 21.




105 Ibid., hlm. 36.

106 “Lika - liku Studio Rekaman Surabaya” dalam Surabaya Post, 13 September 1979.

107


 Ibid

108 Wawancara dengan Remy Sylado hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




109 “Banyak Grup Kini tak Punya Identitas” diakses dari www.bali-travelnews.com. tanggal 10 Agustus 2005.


110 Reza Sihbudi, ” AKA,SAS, Musik Bawah Tanah” KOMPAS 24 september 2004




111 “Profil SAS” diakses dari www.tembang.com tanggal 17 Maret 2006


112 Reza Sihbudi, op.cit

113 Ibid., lihat juga Surabaya Post 9 Juli 1976. Berita pertunjukan AKA dan The Rollies.




114 “Profil SAS” diakses dari www.tembang.com tanggal 17 Maret 2006




115 Sawung Jabo dan Suzan Piper, op.cit., hlm. 12.




116 Theodore KS, “ From Surabaya with Rock” dalam Kompas 28 Januari 2005.




117 Reza Sihbudi, op.cit


118 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14 .

119 Samboedi, Jazz Sejarah dan Tokoh- tokohnya (Semarang : Dahara Prize,1989), hlm. 168.




120 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14




121 Wawancara dengan Betty, hari Rabu 8 Maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6




122 Ibid




123 Samboedi, op.cit., hlm. 172.




124 Ibid., hlm. 172.




125 Ibid, hlm. 175.




126 Surabaya Post 31 Agustus 1976




127 Agil H Ali, ”Menonton Jazz Pribumi di Mitra” dalam Surabaya Post 1 September 1976




128 Jadwal Siaran Musik Di RRI pada Surabaya Post edisi tahun 1975-1980. Setiap hari jadwal siaran RRI dan TVRI selalu ada di koran Surabaya Post.




129 Theodore KS, “From Surabaya with Rock” dalam KOMPAS, 28 Januari 2005




130 Arsip Kota no 4069, tentang pengajuan perijinan dari Sekolah musik Surabaya untuk menampilkan konser piano musik klasik di TIM Jakarta tanggal 30 Maret 1973.




131 “ Sekolah Musik Surabaya Membuka Kembali Kursus Gitar dan Teori Musik” dalam Surabaya Post Januari 1967.




132 Reza Sihbudi, ”AKA,SAS, Musik Bawah Tanah” dalam KOMPAS 24 september 2004.




133 “Sekilas Mengenai Yamaha Musik Group of Indonesia: Menciptakan Musik untuk Masa Depan” diakses dari www.yamaha.co.id/ymi/index/jsp. tanggal 1 November 2004.


134 Ibid




135 Wawancara dengan Betty, hari Rabu 8 maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6.




136 Wawancara dengan Hadar, hari Selasa 28 Februari 2006, pukul 13.00 di YMI(Yayasan Musik Indonesia) Jl Citarum no 10. Remy Sylado, hlm 146




137 Wawancara dengan Betty, hari Rabu 8 maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6.




138 Ibid




139 Ibid




140 “ Surabaya Punya Kursus Musik Anak” dalam Surabaya Post 24 Agustus 1976.




141 Surabaya Post, 8 September 1976




142 “ Satu Tahun Perayaan YKMS” dalam Surabaya Post , 7 Agustus 1979




143 Slamet A. Sjukur, “Musik-Minimax: Murah, Nyata, dan Potensial” dalam Fauzi Rizal dan M. Rusli Kasim, (ed.), Dinamika Budaya dan Politik dalam Pembangunan, (Yogyakarta : PT Tiara Wacana, 1991), hlm. 128.




144 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




145 Tanpa Pengarang, Musician Institute Course Catalog (USA : Musician Institute, 2002), hlm. 50 – 51.




146 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 Maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




147 Wawancara dengan Betty, hari Rabu,8 Maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6.




148 Wawancara dengan Solomon Tong, hari Selasa 28 Februari 2006, pukul 15.30 di SSO,Jl Genteng Kali no 15.


149Wawancara dengan Hadar , hari Selasa 28 Februari 2006, pukul 13.00 di YMI(Yayasan Musik Indonesia) Jl Citarum no 10.

150 Wawancara dengan Betty, hari Rabu,8 Maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6.




151 Surabaya Pos mulai tahun 1975-1980, data mengenai Iklan – iklan Sekolah musik di Surabaya.




152 Surabaya Pos 18 September 1976. Berita mengenai konser musik Sadao Watanabe yang diprakarsai YMI Surabaya.




153 Surabaya Post, Mei 1976. Berita mengenai konser musik klasik dengan Electone




154 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 Maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




155 Wawancara dengan Solomon Tong , hari Selasa 28 Februari 2006, pukul 15.30 di SSO,Jl Genteng Kali no 15.




156 Wawancara dengan Betty, hari rabu 8 Maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6.




157 Agus Sopian, ”Lima Raksasa Internasional di Indonesia: Mengapa Indonesia Jadi Pusat Perhatian Musik Dunia ?” dalam Majalah Pantau, Mei 2002.




158 Suka Hardjana, “Catatan Musik Indonesia fragmentasi Seni Modern yang Terasing” dalam Jurnal kebudayaan Kalam 1995, hlm. 11.

159 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 Maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




160 Samboedi , op.cit., hlm. 172.




161 Surabaya Post iklan – iklan tentang pertunjukkan musik di night club – night club thn 1970-1980. Iklan – iklan pertunjukkan musik di Night Club – Night Club biasanya ada menjelang hari sabtu atau minggu..




162 PEMDA Jawa Timur, Metropolitan Surabaya & Jawa Timur (Surabaya: Penerangan Daerah Militer VIII/Brawijaya, 1976), hlm. 180.




163 Arsip Kota Surabaya data – data tentang perijinan pertunjukkan musik box : 2211 no: 64.183; box :2418 no: 74187.


164 Surabaya Post 8 Juli 1972, 20 Agustus 1976, 7 Juli 1979, 31 Agustus 1976, 2 April 1976. Berita tentang konser – konser musik rock di Surabaya




165 Arsip Kota Surabaya penjelasan tentang malam Old & New dan ijin – ijin pertunjukkan Malam Old & New. Box : 2211 no: 64.183; Box : 2529 no: 6537; Box : 909 no: 9148




166 Arsip Kota Surabaya tentang ijin – ijin pertunjukan Hiburan box: 2.211 no: 64.183




167 Arsip Kota Surabaya data tentang perijinan pertunjukkan musik di Surabaya box: 2211 no: 64.183.

168


 Marc Ferarri, Rock Star 101 : Strategi Jitu Buat Yang Mau Jadi Musisi Sukses (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 34-35.




169 Ibid, hlm. 35.




170 Suka Hardjana, Corat –Coret Musik Kontemporer Dulu dan Kini(Jakarta: kerjasama Ford Foundation dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia, 2003), hlm. 71. Lihat juga Suka Hardjana, Esai dan Kritik Musik, hlm 340-341.




171 Majalah Liberty no 1035/73-1047/73 tahun 1973




172 Wawancara dengan Betty, hari Rabu, 8 Maret 2006, pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6.




173 Surabaya Post Juli 1978


174 Wawancara dengan Betty, hari Rabu 8 Maret 2006 pukul 17.30 di jalan Wono Ayu 6.




175 Arsip kota tentang perijinan pertunjukan Student Concert no : 64. 318.




176 Arsip Kota box : 2211 no : 64.183 bagian mengenai Surat Walikotamadya Surabaya tentang langkah – langkah persiapan dalam rangka menyanbut malam tahun Baru 1976.




177 “ Pendapatan PEMDA KMS Surabaya” dalam Surabaya Post 19 September 1979.




178 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2008 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




179 Wawancara dengan Ibu Nyoman, hari Minggu 19 Maret 2006, pukul 18.00. di Semolo Waru Elok Blok G/25.

180


 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 Maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




181 Reza Sihbudi, ” AKA,SAS, Musik Bawah Tanah” dalam KOMPAS 24 september 2004.




182 Marc Ferrrari, op.cit., hlm. 27-28.

183


 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 Maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.





184 Samboedi, op.cit., hlm. 216-217.




185 David Ellefson, Making Music Your Bussiness: Panduan Memasuki Bisnis Musik (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2005), hlm. 53.




186 Ibid, hlm. 54.




187 Suka Hardjana, Esai dan Kritik Musik (Yogyakarta: Galang Press, 2004), hlm. 103.




188 Theodore K.S, ”Industri Musik, Labirin yang Semakin Menyesakkan” dalam KOMPAS, Selasa 5 November 2002.




189 “Lika – Liku Studio Rekaman di Surabaya “ dalam Surabaya Pos, 13 September 1979.


190 Ibid




191 Suryana, Kewirausahaan: Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses (Jakarta: Salemba Empat), hlm. 102.




192 “Banyak Grup Kini tak Punya Identitas” diakses dari www.bali-travelnews.com. tanggal 10 Agustus 2005.




193 Wawancara dengan Remy Sylado , hari Selasa 7 Maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




194 Theodore KS, ”Pembajakan, Ujung Tombak itu Patahlah Sudah” dalam Kompas, 5 November 2002.




195 Surabaya Post 1975-1980, Data-data mengenai iklan Penjualan kaset.


196 PEMDA Jawa Timur, Metropolitan Surabaya & Jawa Timur (Surabaya: Penerangan Daerah Militer VIII/Brawijaya, 1976), hlm. 103.




197 Theodore K.S, ”Industri Musik, Labirin yang Semakin Menyesakkan” dalam KOMPAS, Selasa 5 November 2002.




198 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




199 Agus Sopian, ”Lima Raksasa Internasional di Indonesia: Mengapa Indonesia Jadi Pusat Perhatian Musik Dunia?”dalam Majalah Pantau, Mei 2002.




200 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




201 Wawancara dengan Remy Sylado, hari Selasa 7 maret 2006 pukul 17.30 di Hotel Paviljoen jl Pasar Genteng, kamar no 14.




202 Theodore K.S, op.cit

No comments: